
Berita yang dilansir oleh detikinet kemarin memberikan asa baru tentang hadirnya ponsel berbasis Android di Indonesia, melengkapi BlackBerry dan iPhone. Diberitakan bahwa prinsipal HTC, sebagai pembuat HTC Dream –basis T-Mobile G1– akan memasukkan ponsel Android ke Indonesia di bulan Juni.
Tidak tertutup kemungkinan bahwa upcoming HTC Magic (yang baru-baru ini diluncurkan di Hong Kong) dan ponsel HTC berbasis Android yang lain nantinya juga masuk ke pasar Indonesia yang merupakan pasar telekomunikasi terpesat di dunia. Harga HTC Dream legal nantinya diperkirakan sekitar 6-7 juta. Sebelumnya HTC Dream sudah masuk ke pasar regional Singapore melalui SingTel.
Salah satu acuan menarik adalah HTC akan menggandeng 3 operator besar dalam penjualan produknya. Mengacu ke konstelasi telekomunikasi seluler Indonesia, kemungkinan 3 operator tersebut tidak jauh-jauh dari Telkomsel, Indosat, dan XL. Kenapa trend terbaru saat ini adalah menggandeng operator?
Alasan terbaik tentunya prinsipal tidak perlu lagi repot membuat promosi sendiri, biarlah operator bernama besar dan berbudget banyak itu yang melakukan tugasnya. Ini sangatlah menguntungkan prinsipal karena buzz yang diciptakan oleh operator-operator ini biasanya sangatlah efektif, ketimbang buzz yang dilakukan sendiri –pengecualian untuk Nokia dan Sony Ericsson.
Alasan berikutnya adalah dengan menggandeng operator, prinsipal dapat lebih leluasa menentukan paket tarif yang diinginkan. Bundling dengan cicilan 6 bulan atau 12 bulan tidaklah masalah. Harga total bukanlah faktor terbesar penentu kesuksesan penjualan suatu handset.
Bukankah suatu ponsel seharga 6 juta bisa dijual dengan harga awalan 2 juta dan cicilan 300an ribu per bulan selama setahun penuh? Berilah paket berlangganan data secara unlimited selama masa satu tahun itu, manjakan dengan bonus aplikasi dan contents, dan voila! Ponsel itu menjadi terlihat seksi bagi para gadget freaks! Tidak susahkan?
Lalu apakah HTC Dream akan “cukup” sukses di ceruk yang padat, bersaing dengan iPhone dan BlackBerry? Memang dibanding 2 nama tersebut, Android masih lebih sedikit pamornya, tapi saya yakin masih ada gadget freaks yang fanatik –terutama dengan produk Google– yang tidak akan melewatkan hadirnya handset ini secara resmi. Yang perlu dilakukan adalah mempromosikan keunggulan Android yang berbasis Linux dan memiliki aplikasi native Google yang terintegrasi, seperti push email GMail, Google Maps, dan Google Calendar.
Dengan build factor memiliki both layar sentuh dan QWERTY keyboard –sesuatu yang tidak dimiliki oleh iPhone ataupun BlackBerry– saya yakin selalu ada yang bisa ditawarkan oleh ponsel ini.
