Lagi, RIM rilis iklan tentang Indonesia

Tak habis-habisnya Indonesia menjadi pusat perhatian Research in Motion, selaku produsen BlackBerry. Kali ini RIM merilis sebuah iklan tentang bagaimana BlackBerry Messenger (BBM) membantu Bobby dan Ucha sebagai seniman tato berkomunikasi dengan teman dan clients serta menjalankan bisnis yang menjadi passion mereka.

Silakan nikmati videonya berikut ini:

RIM “tendang” Kik dari BlackBerry?

Sebuah open letter yang dimuat Kik dalam blognya cukup mencengangkan. Research in Motion (RIM) ternyata telah “menendang” Kik keluar dari platform BlackBerry. Setelah sebelumnya Kik dikeluarkan dari BlackBerry App World, pengguna Kik di BlackBerry yang sudah mengunduh messenger populer ini akan dihadapkan pada kenyataan pahit baru.

RIM mematikan akses push Kik sehingga pesan yang disampaikan melalui kik akan mengalami keterlambatan hingga 1 jam. Sistem RIM yang tertutup tentunya memudahkan RIM untuk “menyensor” segala layanan yang tidak diinginkannya.

Selain itu, RIM telah menghapuskan akses ke BlackBerry Software Development Kit dan Signing Keys, mengakibatkan dibekukannya kemungkinan pengembangan Kik di platform BlackBerry ke depannya. Kondisi ini secara efektif tidak berpengaruh pada pengguna iPhone dan Android, kecuali jika Anda mengirimkannya kepada teman yang menggunakan BlackBerry.

Sikap RIM ini berbalik 180 derajat padahal sebelumnya Kik mendapatkan perlakuan menyenangkan dari RIM. Kik messenger awalnya diterima di App World tanpa masalah, layanan musik mobile yang akan diluncurkan juga mendapatkan penghargaan khusus di ajang BlackBerry Devcon tahun lalu dan bahkan diumumkan RIM sebagai salah satu dari 5 aplikasi yang dimasukkan dalam platform BBM mendatang.

Meskipun tanpa BlackBerry, Kik saat ini mendapatkan sambutan yang sangat baik, terbukti peminatnya melonjak dari 1 juta menjadi 2.5 juta pengguna setelah RIM secara efektif mengeluarkan Kik dari App World. Disinyalir memang RIM keberatan jika Kik nantinya menyaingi BBM miliknya — selain masalah battery drain dan pelanggaran privasi yang meng-crawl data kontak, yang sudah ditawarkan update-nya oleh Kik.

Sebenarnya di penggunaan nyata konsumen tetap cenderung menggunakan BBM bagi komunikasi antar pengguna BlackBerry dan menggunakan Kik untuk berkomunikasi dengan pengguna platform lain. Apa bedanya Kik dengan What’s App, pingchat, atau bahkan yang messenger yang lebih populer seperti MSN dan Yahoo! Messenger? Kita harapkan perselisihan ini dapat segera mendapatkan jalan keluarnya.

Update: RIM telah mengajukan tuntutan terhadap Kik perihal pelanggaran hak paten, berkaitan dengan akses infrastruktur BlackBerry untuk kepentingan aplikasi chatting antar platform, plus Kik tanpa ijin mengakses informasi personal di ponsel, misalnya addressbook.

Pre-Order BlackBerry Torch 9800

Tentu saja Anda pernah mendengar seri unggulan dari BlackBerry ini. Mengusung sistem operasi terbaru, BlackBerry 6, BlackBerry Torch adalah ponsel pintar dari RIM terbaik saat ini. Sejak peluncurannya melalui AT&T beberapa waktu yang lalu, ponsel ini sudah lama masuk Indonesia melalui pasar Black Market.

Sudah saatnya Torch masuk Indonesia secara resmi dan tidak perlu heran bahwa Indonesia — dengan pertumbuhan kepemilikan BlackBerry yang pesat — adalah negara pertama di Asia yang mendapat kesempatan ini.

BlackBerry Torch adalah generasi BlackBerry baru yang pertama kali menggunakan dengan model slider. Susunan keyboard-nya mirip milik Bold 9000, sementara layarnya adalah layar sentuh khas seri Storm. Fitur unggulannya antara lain kamera 5 megapiksel, browser terbaru berbasis webkit yang mendukung HTML5, dukungan multimedia yang lebih baik, dan tak lupa sistem operasi BlackBerry 6 yang lebih fluid.

Pre-order di Indonesia saat ini tersedia melalui beberapa channel. Yang pertama melalui situs resmi BlackBerry yang didukung oleh 3 distributor nasional, TAM, Selular Shop, dan Oke Shop. Channel berikutnya adalah melalui operator, saat ini sudah 2 operator yaitu XL dan Telkomsel yang membuka pendaftaran resmi di situsnya. Anda tinggal pilih mana yang sesuai dengan preferensi pribadi.

Barang diperkirakan akan tersedia mulai akhir Oktober ini dengan perkiraan harga di atas IDR 6 juta. Sebagai informasi, harga ponsel ini secara non-kontrak melalui AT&T adalah US$499.99.

Update: harga resmi melalui Telkomsel adalah IDR 6.499.000.

Update2: Indosat dan Tri juga telah membuka pre-order untuk BlackBerry Torch

Why your Blackberry is so sweet?

obama-b

The first Blackberry President is … Obama. Change he can’t permit.

Sudah tidak bisa dipungkiri, Blackberry memang benar-benar mewabah di Indonesia. Bahkan menurut saya, syndrome smartphone asal Kanada dengan keypad khasnya ini boleh dibilang sudah berhasil mengalahkan wabah flu babi yang sempat panas beberapa bulan lalu. Bedanya jelas, wabah flu babi sungguh negatif nan desktruktif sementara wabah Blackberry sebaliknya.

Di lain pihak, iPhone 3G dan iPhone 3Gs – smartphone asal Paman Sam yang digadang-gadang akan memberangus kedigdayaan Blackberry di Indonesia – ternyata belum bisa berbicara banyak. Di hari pertama atau bulan pertama peluncurannya, si primadona layar sentuh memang sempat bikin ramai jagat gadget Indonesia – sesuatu yang juga lumrah di belahan dunia lain. Tapi setelah periode itu habis, desing kemolekan iPhone lambat laun tertelan hingar bingar BB.

Tapi bagaimana dengan penantang lain selain iPhone? Hasilnya sama saja. Blackberry tetaplah juara. Tidak peduli varian BB apapun yang diluncurkan oleh RIM, orang-orang Indonesia ramai menyerbu dan membelinya. Dan kalaulah boleh saya mendaftar, berikut beberapa alasan kenapa Blackberry tampak begitu manis di mata orang-orang Indonesia.

1. Blackberry masuk duluan

Kalau alasan ini memang valid, seharusnya Palm yang mewabah di Indonesia, bukannya BB. Tapi di era interkonektivitas, jalan ceritanya menjadi berbeda. Bagi orang Indonesia, Palm adalah PDA, sementara BB adalah smartphone. Dan tampaknya orang Indonesia sudah tidak perlu lagi PDA. Hahaha … hari gini.

Dengan fitur pembunuhnya, push email, BB mampu memikat kalangan menengah ke atas yang saat itu memang sedang mencari sebuah perangkat “kecil” yang bisa menghubungkannya dengan dunia maya, tapi bukan laptop. Dan BB ternyata berhasil. Banyak orang Indonesia yang memuji alih-alih mencibirnya. Dan ini bertahan sampai sekarang.

2. Blackberry “terbuka”

BB saya sebut “terbuka” karena RIM membebaskan semua operator selular di Indonesia untuk berkreasi guna mengambil sebanyak mungkin manfaat dari gadget terbaiknya. Tidak pelak, tawaran-tawaran fantastis dari operator-operator seluler ternama negeri ini terkadang membuat banyak orang yang tadinya hanya menggunakan ponsel-ponsel mainstream seperti Nokia c.s. menjadi pengguna BB setia. Dan hasilnya sangat luar biasa. Kalau tidak percaya tanya saja sama CEO-nya Telkomsel, Indosat, dan XL.

obama-blackberry

3. Blackberry sering jadi headline

Kasus pertama

Mungkin karena jumlah permintaan yang jauh melebihi persediaan, beberapa oknum pengusaha ponsel sampai ada yang pernah ketahuan mengimpor ribuan BB dalam kontainer secara ilegal dari luar negeri. Dan ini bukanlah kasus yang remeh bagi wartawan, baik yang bekerja untuk media cetak maupun elektronik.

Kasus kedua

Sudah lupa masyarakat kita dengan drama penyelundupan BB, kali ini BB bikin heboh lagi. Depkominfo, selaku lembaga yang berwenang dalam perlindungan konsumen atas produk-produk IT, meminta pengusaha untuk menghentikan impor BB ke Indonesia jika RIM enggan membuka authorized dealer dan service center. Well, RIM adalah perusahaan yang pintar. Jadi akhirnya mereka mau mengalah.

4. Blackberry terlalu sering muncul di sinetron dan infotainment

Pernahkah anda memperhatikan ponsel yang sering diangkat-angkat oleh Manohara dalam jumpa pers ketika sang mantan tuan putri ini hendak menunjukkan bekas luka penganiayaan yang diterimanya akibat ulah suaminya? Yoa, itu adalah BB.

Sewaktu Indonesia dihebohkan dengan drama ala dongeng Cindrelella ini, apapun ponsel yang dipakai sang tuan putri akan menjadi kesohor. Dan BB sebaiknya mengirimkan kartu ucapan terima kasih kepada Manohara atas ulahnya pada saat jumpa pers tempo hari.

5. Blackberry tidak lagi mahal

BB tidak lagi mahal karena penjualnya banyak. Pun demikian dengan stoknya. Di samping itu, seorang pengguna BB sudah bisa menikmati paket layanan telekomunikasi hanya dengan biaya Rp 3000 sampai Rp 5000 untuk satu hari per sekian MB data. Guys, this is cheap!

6. Pecinta Blackberry punya banyak komunitas

Kalau di Yogya ada perkumpulan yang disebut JogjaBerry dan Jogja Blackberry Community (JBC). Entah bagaimana dengan kota Anda tapi yang jelas antusiasme komunitas BB mungkin hanya bisa ditandingi oleh para ontelis atau biker yang biasanya tergabung dalam komunitas-komunitas ala Bike to Work dan sejenisnya.

Sama seperti sepeda, pengguna BB akan terus bertambah seiring dengan bertambahnya jumlah komunitas penggemar. Di era social media seperti ini, saran dari seorang peer adalah prioritas. Iklan sudah tidak lagi banyak berpengaruh. Masih ingatkah Anda terakhir kali RIM mengiklankan BB versi awal di TV-TV swasta nasional?

7. Tiruan Blackberry banyak dan murah meriah

Ketika para selebritis dan pejabat ramai menggunakan BB, rakyat jelata biasanya ingin ikut-ikutan. Dengan harga selangit, kaum marjinal hanya bisa bermimpi memakai gadget sekelas BB. Tapi syukur tak dapat ditolak, para vendor ponsel lokal sadar akan hal ini, lantas dengan semangat mereka meluncurkan species-species baru berakhiran Berry seperti NexianBerry, SPC Berry, e Touch Berry, Beyond Berry, dan sebagainya. [cek theponsel.com untuk daftar ponsel-ponsel cina dan lokal yang meniru BB]

Sebenarnya tidak hanya vendor lokal yang bersenang-senang dengan demam BB, vendor-vendor ternama pun ikut arus. Sebut saja Nokia dengan seri E71 dan E72, Samsung Corby TXT, Moto Q, dan banyak lagi lainnya. Yah, those BB-ish.

Satu-satunya vendor ponsel mainstream yang saya anggap belum mau mengeluarkan ponsel BB-ish adalah Sony Ericcsson. Ada apa dengan SE? Mungkin kah mereka gengsi karena merasa Satio lebih powerful. Sama seperti Apple kah?

8. Gara-gara Budi Putra (BP Factor)

Faktor istimewa ini saya letakkan di akhir tulisan. Jangan salah, memang BP tidak seheboh BB tapi anda keliru kalau menganggap BP tidak punya andil sama sekali dalam meningkatkan popularitas BB.

Sebagai seorang selebritis dunia maya dan Web 2.0 Indonesia, BP secara tidak langsung mampu mempengaruhi para simpatisannya. Entah itu yang menjadi teman di facebook, pengikutnya (follower) di twitter, atau penggemarnya di budiputra.com.

Sebagai mantan bloggernya di 3GWeek, saya tahu betapa kentalnya persahabatan antara BP dan BB. Dan tidak jarang, dalam beberapa kesempatan biasanya BP mengucapkan terima kasih yang mendalam kepada gadget yang sudah menemaninya kemana pun ia pergi.

Testimoni-testimoni tulus inilah yang pada akhirnya saya kira bisa turut mempengaruhi para simpatisannya untuk turut membeli sekaligus menjadikan BB sebagai seorang sahabat alih-alih hanya sekedar ponsel. Btw, RIM Indonesia mungkin bisa menjadikan BP sebagai brand ambassador suatu hari nanti. Tapi itu kalau Yahoo mengizinkan. Hehehe …

Dan semoga saya tidak salah…..

NB: kalau anda punya alasan lain, silahkan tinggalkan komentar ya. terima kasih. viva Blackberry!

Wear one! Now Blacksweet T-Shirt is on sale for only IDR 55 thousands. [Distro Kaos]

BlackBerry Storm, bakal menyaingi iPhone 3G di Indonesia?

Tadi malam, BlackBerry Storm –generasi pertama produk RIM dengan layar sentuh– diluncurkan oleh partner utama RIM di Indonesia, Indosat. Dilaksanakan di Plaza FX, peluncuran perdana ini belum akan menyediakan Storm secara ready stock. Storm baru akan tersedia untuk publik mulai bulan Mei depan. Meskipun demikian, masyarakat yang berminat bisa melakukan pre-order di situs Indosat.

Selain Indosat, XL juga akan segera menawarkan Storm. Tidak jelas kondisinya dengan Telkomsel, yang baru saja meluncurkan iPhone 3G. Saya pribadi cenderung yakin bahwa Telkomsel tidak akan menjual Storm, you know why :P

Storm sendiri diposisikan sebagai pesaing utama iPhone 3G, selain Samsung Omnia, LG Cookie, Sony Ericsson Xperia X1, ataupun Nokia 5800 XpressMusic yang kesemuanya menggunakan layar sentuh tanpa adanya suatu dedicated keyboard. Storm sendiri pertama kali diluncurkan di USA di bulan November tahun lalu. Sebelumnya sejumlah unit Storm telah masuk secara ilegal ke Indonesia. Saya sempat “menangkapnya” ketika dijual dengan harga semena-mena di sebuah toko gadget di Plaza FX (juga).

Storm diluncurkan dengan 2 varian. Yang pertama adalah 9500 yang mengusung frekuensi GSM (saja). Berikutnya adalah 9530 yang memiliki dual frekuensi dengan CDMA. Setahu saya, versi dengan CDMA hanya ditawarkan oleh Verizon Wireless di USA. Storm secara umum memiliki spec yang tidak jauh dibanding Bold ataupun Curve 8900, meskipun tidak dilengkapi oleh Wi-Fi! Untungnya, RIM baru-baru ini mengkonfirmasi bahwa akan ada “Storm 2″ yang dilengkapi dengan Wi-Fi (dan tentunya sejumlah perubahan lainnya).

Sama-sama dibayangi oleh peluncuran versi yang lebih baru, saya cenderung memprediksikan Storm tidak akan sesukses iPhone 3G. Kenapa demikian? Berikut adalah alasan-alasannya:

  1. BlackBerry tetap butuh keyboard. Meskipun Storm diposisikan untuk lebih bersaing dalam hal multimedia (terhadap iPhone 3G), pengguna Storm tetap membutuhkan kenyamanan dalam menggunakan tuts keyboard. Meskipun RIM mengklaim bahwa keyboard SurePress sangat responsif, pengalaman “mengetik dengan tuts” adalah sesuatu yang masih bersifat semi-wajib bagi crackberry –sebutan bagi BlackBerry addicts–
  2. Kemampuan multimedia Storm belum selengkap iPhone 3G. Kita semua tahu jika urusan aplikasi, iPhone (dan App Store) adalah rajanya. RIM cenderung (terlalu) selektif dalam membolehkan suatu aplikasi terdaftar di listing aplikasinya (belum tahu apakah AppWorld masih seperti ini), membuatnya tertinggal terhadap dukungan pihak ketiga
  3. Sudah ada pendahulunya, Bold dan Curve 8900. Pasar BlackBerry –walaupun potensial– cenderung didominasi oleh kaum muda di kota besar. Karena ceruk ini sudah ter-expose oleh Bold dan Curve 8900, saya yakin bahwa yang beralih ke Storm tidak akan banyak, kecuali memang kebanyakan duit untuk dibuang-buang. Harga yang ditawarkan saya yakin tidak akan jauh lebih murah dari harga perkenalan Bold setahun yang lalu
  4. Ditemukan sejumlah bugs saat pertama kali dluncurkan. Masih ingat review mengejutkan dari New York Times tentang Storm? Review dari jurnalis berpengaruh seperti itu, walaupun mungkin sebagian sudah diperbaiki, tentunya cukup berpengaruh bagi calon pembeli untuk berpikir dua kali. Sedikit banyak tentunya juga ada efeknya untuk pembeli di Indonesia
  5. Storm masih BlackBerry, bukan Apple. Ya, memang masyarakat Indonesia selalu suka yang baru. Dulu Nokia Communicator diburu-buru, berikutnya BlackBerry menjadi primadona. Kini Apple menawarkan sesuatu yang yang mungkin bisa jadi ponsel sejuta umat yang baru. Storm, di sisi lain, tidak menawarkan sesuatu yang benar-benar baru, meskipun sudah berlayar sentuh. Interface BlackBerry-nya ya serupa tak sama lah dengan Bold ataupun Curve 8900. Beda tipis lah..

Lima alasan di atas bisa jadi belum cukup kuat untuk menjadikan pembeli berpaling. 80 ribu pelanggan Indosat, 75 ribu pelanggan Telkomsel, dan 55 ribu pelanggan XL, yang kesemuanya menggunakan layanan BlackBerry bisa jadi bertambah setelah datangnya Storm ini. Mungkin pembaca sekalian bisa ikut urun pendapat tentang kemungkinan Storm menjadi pesaing kuat iPhone 3G, khususnya di Indonesia?

[Foto oleh Budi Putra]