Apakah BlackBerry Internet Service unlimited itu overkill?

Adalah suatu pembicaraan menarik dengan sejumlah kolega di Twitter, apakah paket layanan Internet BlackBerry (BlackBerry Internet Service – BIS) yang menawarkan paket data unlimited melalui pipeline jaringan RIM itu overkill, karena menurut pemandangan umum, kebanyakan BIS hanya digunakan untuk chatting (Instant Messengers – IMs) dan push email. Ini tentu membandingkan misalnya iPhone Telkomsel hanya di-bundle dengan paket data yang dilimitasi untuk 500 MB per bulan misalnya.

Pandangan pertama saya adalah BlackBerry itu untuk email (push tentunya). Dengan kemampuan meng-handle 10 akun email (di luar akun email operator), BlackBerry adalah device yang powerful untuk mengurusi 2000-3000 email per hari. Jangan belokan kemampuan BIS yang all-in dengan “hanya” digunakan untuk IMs (di sini dapat berarti BlackBerry Messenger, Yahoo! Messenger, MSN Messenger, ataupun Google Talk).

Pandangan kedua saya, ada cara mudah untuk mengetahui apakah BIS secara umum digunakan untuk IMs belaka (di mana kata unlimited itu dianggap overkill). Bandingkan saja perkembangan subscriber BISLite (saat ini baru ada di Indosat, Telkomsel dan yang lain akan menyusul) yang hanya menawarkan paket email dan IMs — tanpa memasukkan kemampuan browsing dan Facebook-ing — dengan subscriber BIS reguler.

Harga BISLite ini IDR 55 ribu per bulan (termasuk pajak), sementara BIS reguler berkisar IDR 150-190 ribu per bulan. Tentunya dibutuhkan data shahih dari operator untuk membuktikannya

Saya sendiri melakukan eksperimen pribadi menggunakan suatu aplikasi sebagai data counter. Hingga tanggal 12 ini penggunaan data saya sebanyak 75 MB (untuk browsing, Facebook, email, IMs, App World, dan OTA). Jika penggunaannya tetap stabil seperti ini, diekspektasikan di akhir bulan total data yang digunakan adalah sekitar 180an MB. Asumsi 1KB data standar senilai IDR 1, maka konversi penggunaan paket data adalah sekitar IDR 180 ribu.

Dalam kata lain, masih dalam taraf belum beda jauh dengan penarifan tarif standar. Tapi karena saya bukan seorang abuser dalam penggunaan data Internet, tentunya data ini sangat subyektif. Anda mungkin mau memberikan sumbang saran?

Impor BlackBerry bukan monopoli operator?

blackberry-app-world

Suatu wacana menarik dikemukakan oleh Depkominfo. Seperti yang diberitakan oleh detikInet, Depkominfo telah melansir sertifikasi Ditjen Postel untuk importir selain importir bagi produk BlackBerry. Tentunya setelah importir tersebut mengurus segala kelengkapannya di sini (surat-surat dll). Yang jadi pertanyaan, apa benar BlackBerry yang diimpor tersebut adalah sah (atau tidak)?

Seharusnya kita kembali berkaca pada pola distribusi yang selama ini dilakukan oleh RIM. Untuk menjual produk BlackBerry-nya — di mana pun di dunia ini — RIM SELALU menggandeng operator setempat. Ini karena RIM selalu menjual paket layanan yang bersifat kontinuitas yang disebut BIS dan BES. Makanya jika kita perhatikan semua handset BlackBerry selalu berlogo operator, entah itu Rogers, AT&T, T-Mobile, O2, Vodafone, bahkan termasuk Indosat (saya tidak tahu apakah Telkomsel dan XL juga melansir logo sendiri).

Nah, melihat hal ini, apa iya di USA atau Kanada ada pihak yang tidak berafiliasi dengan operator bisa menjual BlackBerry secara ketengan? Sejauh yang tahu sih tidak ada. Tapi bisa kita bilang pasar Indonesia adalah unik, di mana pola penjualan melalui operator adalah suatu barang baru. Selama ini konsumen biasa membeli di toko, sementara membeli paket melalui operator disinyalir membuat harga menjadi jauh lebih mahal — meskipun di-bundle dengan sejumlah paket insentif.

Buat saya pribadi, impor secara sendiri-sendiri di luar pengawasan operator memberikan celah bagi adanya barang dengan PIN kloningan, barang non garansi dari produk refurbished, dan kemungkinan semakin banyak PIN yang di-suspendĀ  di Indonesia karena kecurangan-kecurangan seperti ini.

Seharusnya bagaimana pihak RIM dan pihak operator menghadapi keinginan regulator — dalam hal ini Depkominfo — dalam pengadaan handset BlackBerry? Seharusnya impor melalui non-operator harus SANGAT DIBATASI untuk menghindari adanya kasus-kasus yang merugikan konsumen.

Bukan berarti kalau lewat operator akan tidak ada kasus, tapi setidaknya ada jaminan hukum seandainya terjadi masalah. Bagaimana Anda bisa menuntut RIM memperbaiki suatu unit yang memiliki PIN ganda akibat ulah tangan-tangan kotor di luar sana jikalau belinya di pedagang yang tidak jelas juga?

Jika terjadi kasus — misalnya seperti dilansir oleh Ndoro Kakung beberapa waktu lalu — RIM tidak bisa disalahkan sepenuhnya karena dia tidak punya wewenang untuk memberangus produk ilegal di wilayah teritori hukum Indonesia, tapi Depkominfo dan kepolisian RI bisa.

Ada baiknya bagi (calon) pembeli BlackBerry untuk memastikan bahwa handset yang digunakannya adalah valid dengan mengecek apakah PIN dan IMEI yang tertera di unit adalah sama dengan yang tertera di kotak. Untuk lebih absah lagi, silakan kirim no PIN Anda ke help[at]rim.com atau help[at]blackberry.net untuk memastikannya. Silakan menuju ke link ini untuk langkah-langkah lengkapnya.

Oh ya, jika minat membacanya, silakan unduh Handheld Limited Warranty Berbahasa Indonesia [pdf].