
Masih tentang BlackBerry Internet Service (BIS), setelah sebelumnya XL Axiata menurunkan harga paket BlackBerry Internet Service bulanannya secara permanen, kini AXIS juga melakukan hal yang sama. Harga paket bulanan AXIS versi unlimited saat ini menjadi IDR 79,000 per bulan, beda tipis dengan harga “paket hemat”-nya. Secara tidak langsung, perang tarif BIS ini juga diikuti dengan penurunan harga paket data operator (APN operator) hingga ada yang berani menawarkan paket unlimited seharga IDR 25,000 per bulan untuk Fair Usage 500MB.
Di satu sisi, konsumen cukup diuntungkan dengan adanya penurunan harga paket data ini. Harga paket data yang murah biasanya mendorong konsumen untuk “konsumtif” mengambil paket ini cepat-cepat, mumpung masih belum banyak yang menggunakan katanya. Di sisi lain, peningkatan arus penggunaan data, jika tidak diimbangi dengan kestabilan dan ketersediaan bandwidth akan menimbulkan bottleneck, yang pada ujungnya justru merugikan kedua belah pihak.
Ibu Ventura Elisawati sudah membahas panjang lebar tentang masalah profit margin tipis dan sejumlah kerugian bisa yang diperoleh oleh operator dengan adanya perang tarif BIS ini. Saya setuju bahwa sebenarnya konsumen BIS ini cenderung adalah golongan menengah ke atas, kelas konsumsi A dan B yang tidak begitu price sensitive seperti laiknya konsumen promo telepon dan SMS murah beberapa waktu lalu.
Reliabilitas dan kecepatan adalah isu yang lebih penting bagi golongan ini ketimbang masalah harga. Toh selama ini, dari beberapa perbincangan yang saya lakukan dengan sesama pengguna paket BIS, orang pindah paket BIS BUKAN karena harga yang lebih murah tapi lebih ke masalah kestabilan coverage jaringan dan kecepatannya. Mohon teman-teman dari operator mencamkan lagi kalimat tersebut. Buat apa kita pindah ke operator yang menawarkan harga tarif bulanan separuh operator yang lain, jikalau kualitas jangkauan layanan dan kecepatannya juga tinggal separuhnya saja?
Saya coba menggali alternatif-alternatif, selain penurunan harga, yang dapat menjadi insentif operator untuk menarik minat pelanggan menggunakan layanan BIS-nya. Hal paling utama adalah reliabitas jaringan dan peningkatan coverage area. Data terbaru menunjukkan Telkomsel saat ini sudah kembali menjadi yang terbanyak pelanggan BIS-nya. Hal ini dipengaruhi tak lain dan tak bukan karena luasnya area pelayanan BIS hingga ke pelosok. Masyarakat cukup nyaman mengetahui bahwa BlackBerry-nya akan tetap mendapatkan GPRS atau EDGE besar jika dibawa ke daerah manapun. Ini sampai sekarang masih belum ditandingi oleh operator lain, meskipun Indosat sebagai pionir mengekor dengan ketat.
Hal kedua adalah menjamin kecepatan minimal layanan BIS-nya. Daripada mengiklankan kecepatan up to sekian Mbps, lebih baik operator menjamin hal seperti MINIMAL kecepatan yang bisa diperoleh adalah 384 Kbps untuk 2G, ataupun 1Mbps untuk 3G. Ini jauh lebih menyenangkan ketimbang mengatakan kecepatan teoritis up to sekian Mbps, tapi di jam-jam sibuk kecepatannya drop hingga cuma di bawah 100 Kbps.
Hal lain yang bisa dieksplorasi lebih lanjut adalah peningkatan kerjasama roaming internasional yang lebih luas, memungkinkan masyarakat untuk membawa layanan BIS-nya di negeri seberang tanpa khawatir tagihannya jebol. XL Axiata sudah memulainya dengan harga IDR25,000 untuk paket pascabayar saat roaming di sejumlah negara di Asia. Ada baiknya kerjasama diperluas lagi, misalnya ke Australia, dan bahkan negara-negara Eropa dan Amerika.
Solusi ultimate layanan ini adalah adanya paket global roaming, memungkinkan adanya satu harga saat dibawa bepergian ke manapun di belahan dunia ini. Paket semacam ini sudah ditawarkan oleh Verizon Wireless dari USA dan kabarnya sejumlah orang Indonesia yang memang sering sekali bepergian untuk bisnis sudah menggunakannya. IDR500,000 – 1 juta per bulan untuk layanan global roaming, kenapa tidak?
Dari penjelasan-penjelasan di atas, tampak bahwa masih ada sejumlah ruang yang bisa diambil operator sebagai nilai tambah layanannya ketimbang perang harga. Maukah alternatif-alternatif itu diambil ketimbang jor-joran menurunkan harga tanpa mempertimbangkan kualitas layanan, itulah pertanyaannya.