
Indosat, partner setia RIM di Indonesia, siap membuka lembaran sejarah baru dengan menggerakan tangan CDMA-nya sebagai pionir (mungkin satu-satunya?) operator CDMA yang akan membuka jaringannya untuk BlackBerry. Rencananya layanan ini mulai bisa dinikmati pelanggan Starone sejak bulan Mei. Dikonfirmasi dari detikinet, Indosat sendiri tidak akan mem-bundle paketnya dengan handset apapun. Dengan demikian, kita harus mencari sendiri handset yang mampu mengakomodasi jaringan CDMA, seperti Curve 8330 ataupun Storm 9530.
Kita tahu bahwa selama ini Starone selalu menjadi “anak tiri” bagi Indosat. Satu-satunya alasan orang–at least yang saya kenal–untuk menggunakan Starone adalah paket data Internet dengan biaya yang cukup terjangkau. Untuk perebutan kue subscribers, sampai sekarang masih kalah bersaing dengan Telkom Flexi dan Esia karena pengembangan Starone sampai sekarang nampak setengah hati, jauh tertinggal dibanding saudaranya di ranah GSM. Suatu langkah yang berani akhirnya diambil oleh Indosat demi mengejar ketinggalannya.
Memanfaatkan jaringan yang sudah ada, Starone tidak perlu bersusah payah untuk membuat suatu jaringan yang baru. Meskipun demikian, saya melihat adanya tantangan yang mengakibatkan promosi BlackBerry ini tidak berjalan secara aktif. Tantangan tersebut antara lain:
- ARPU (Average Revenue Per User) pelanggan CDMA yang cukup rendah. Kita tahu bahwa kebanyakan ponsel CDMA digunakan di Indonesia karena biayanya yang murah untuk percakapan sesama operator maupun ke PSTN. Saya pribadi hanya mengeluarkan 25 ribu sebulan untuk penggunaan ponsel CDMA. Jikalau tarif langganan BlackBerry melalui operator GSM, sekitar 150 ribu per bulan, diterapkan untuk pelanggan CDMA, tentunya kita akan berpikir berkali-kali untuk membayar sejumlah uang yang bisa digunakan untuk menelepon hingga 150 jam lamanya
- Rendahnya penetrasi Starone dalam hal kualitas dan kuantitas jaringan. Saya memang bukan pengguna Starone, tapi setahu saya hanya ada 1-2 orang saja teman saya yang menggunakan Starone. Ini dikarenakan selain promosi dan tarif yang setengah hati, nampaknya kualitas dan kuantitas Starone di Jakarta maupun di luar Jakarta menjadi pertimbangan utama. Apa gunanya membayar biaya bulanan yang mahal jikalau tidak bisa digunakan, setidaknya seantero Jakarta?
- Tidak ada paket bundle dengan handset. Hal ini justru buat saya bisa menjadi blunder. Kita tahu tidak mudah untuk mencari handset BlackBerry, seperti Curve 8330 ataupun Storm 9530, yang memiliki kapabilitas jaringan CDMA. Seandainya disediakan oleh importir secara legal pun, tentunya importir akan mempertimbangkan segi keuntungan. Buat apa capek-capek mengimpor barang dengan potensi pelanggan yang tidak banyak jika dibandingkan dengan versi GSM-nya yang jelas-jelas sudah didukung oleh 3 operator besar. Justru seharusnya Indosat memulai edukasi ke masyarakat bahwa ponsel BlackBerry CDMA yang ditawarkan tidak kalah kualitasnya dan tidak begitu mahal harganya
Tiga alasan di atas, walau tidak banyak, cukup merepresentasikan kekhawatiran akan masa depan BlackBerry CDMA–bahkan sebelum diluncurkan. Sekali lagi, secara teknologi saya cukup excited bahwa akan ada lebih banyak pilihan untuk menikmati kecanggihan ponsel pintar ini, tapi saya tekankan sekali lagi, kesalahan dalam mengatasi tiga permasalahan di atas akan menjadi blunder besar bagi Starone untuk bersaing dengan operator CDMA lainnya. Kita tahu bahwa ada operator CDMA seluler yang melaporkan kerugian hingga 1 Triliun di laporan keuangannya.
Jangan sampai hal tersebut terulang dan malah membebani kinerja keuangan Indosat yang sudah mulai memperoleh untung dari lengan GSM-nya. Benahilah Starone dengan sepenuh hati demi meningkatkan profil jaringan CDMA sebagai jaringan yang juga savvy untuk kemajuan teknologi, tak cuma menawarkan layanan telepon murah belaka.