Plurk di BlackBerry

Siapa yang tidak pernah mencoba Plurk? Situs jejaring sosial ini sempat lumayan ngetop saat awal diluncurkan di tahun 2008. Timeline yang unik dengan karakter dan karma membuat Plurk melejit di kawasan Asia, termasuk Indonesia. Meskipun demikian, lama kelamaan pengguna Plurk makin beralih ke Twitter karena ketidakterbukaan API-nya, terutama untuk implementasi client-nya. Terakhir yang saya tahu, Plurk hanya punya aplikasi di iPhone.

Lama tidak terdengar, saya mendapatkan informasi pengembangan aplikasi Plurk di BlackBerry. Tidak jelas apakah aplikasi ini resmi atau tidak, mengingat justru aplikasi ini tersedia luas kecuali di Taiwan, negara asal Plurk. Pengembang aplikasinya adalah iScreen Corporation. Aplikasi Plurk untuk BlackBerry tersedia dalam bahasa Inggris dan Mandarin, dan dapat diunduh secara gratis di AppWorld.

Secara umum, tampilan aplikasi ini tidak jauh berbeda dengan versi mobile web. Anda yang masih fanatik dengan Plurk, silakan cobai aplikasi ini dan beritahu kami opini Anda.

Indosat buka pre-order Pearl 3G dan Curve 3G

Meskipun agak telat informasinya, diberitahukan lagi bahwa Indosat menjadi operator pertama di Indonesia yang memberikan penawaran ponsel BlackBery terbaru, Pearl 3G dan Curve 3G. Update terbaru menyebutkan bahwa slot pre-order Curve 3G sudah habis, sehingga pilihan tinggal untuk Pearl 3G yang berkode 9105. Penawaran ini merupakan kerjasama Indosat dan Bank Mandiri sebagai penyedia layanan bantuan keuangannya, sehingga tak heran program ini eksklusif untuk pemegang kartu kredit Mandiri, dengan harga spesial, di alamat berikut.

Meskipun saat peluncurannya masih menggunakan sistem operasi BlackBerry 5, kedua ponsel ini sudah dikonfirmasi untuk dapat di-upgrade ke BlackBerry 6. Suatu tantangan adalah keduanya hanya memiliki RAM 256MB, separuh dari yang ditawarkan oleh BlackBerry Torch yang secara native menggunakan sistem operasi terbaru ini.

Pearl 3G yang masuk ke Indonesia adalah versi yang menggunakan keypad T9 standar abc, berbeda dengan versi Eropa dan Kanada yang menggunakan keyboard SureType. Curve 3G, di sisi lain, adalah pengembangan dari seri 85xx yang sukses (di sini dikenal dengan kodenama Gemini) dengan penambahan konektivitas jaringan 3G dan GPS secara built-in.

Menarik mencermati sepak terjang kedua ponsel ini, apakah mampu mempertahankan hegemoni BlackBerry di tanah air yang nampaknya mulai tergerus dengan hadirnya ponsel lokal mid-to-low end berbasis Android, seperti misalnya Nexian Journey.

Perang tarif BlackBerry Internet Service

Masih tentang BlackBerry Internet Service (BIS), setelah sebelumnya XL Axiata menurunkan harga paket BlackBerry Internet Service bulanannya secara permanen, kini AXIS juga melakukan hal yang sama. Harga paket bulanan AXIS versi unlimited saat ini menjadi IDR 79,000 per bulan, beda tipis dengan harga “paket hemat”-nya. Secara tidak langsung, perang tarif BIS ini juga diikuti dengan penurunan harga paket data operator (APN operator) hingga ada yang berani menawarkan paket unlimited seharga IDR 25,000 per bulan untuk Fair Usage 500MB.

Di satu sisi, konsumen cukup diuntungkan dengan adanya penurunan harga paket data ini. Harga paket data yang murah biasanya mendorong konsumen untuk “konsumtif” mengambil paket ini cepat-cepat, mumpung masih belum banyak yang menggunakan katanya. Di sisi lain, peningkatan arus penggunaan data, jika tidak diimbangi dengan kestabilan dan ketersediaan bandwidth akan menimbulkan bottleneck, yang pada ujungnya justru merugikan kedua belah pihak.

Ibu Ventura Elisawati sudah membahas panjang lebar tentang masalah profit margin tipis dan sejumlah kerugian bisa yang diperoleh oleh operator dengan adanya perang tarif BIS ini. Saya setuju bahwa sebenarnya konsumen BIS ini cenderung adalah golongan menengah ke atas, kelas konsumsi A dan B yang tidak begitu price sensitive seperti laiknya konsumen promo telepon dan SMS murah beberapa waktu lalu.

Reliabilitas dan kecepatan adalah isu yang lebih penting bagi golongan ini ketimbang masalah harga. Toh selama ini, dari beberapa perbincangan yang saya lakukan dengan sesama pengguna paket BIS, orang pindah paket BIS BUKAN karena harga yang lebih murah tapi lebih ke masalah kestabilan coverage jaringan dan kecepatannya. Mohon teman-teman dari operator mencamkan lagi kalimat tersebut. Buat apa kita pindah ke operator yang menawarkan harga tarif bulanan separuh operator yang lain, jikalau kualitas jangkauan layanan dan kecepatannya juga tinggal separuhnya saja?

Saya coba menggali alternatif-alternatif, selain penurunan harga, yang dapat menjadi insentif operator untuk menarik minat pelanggan menggunakan layanan BIS-nya. Hal paling utama adalah reliabitas jaringan dan peningkatan coverage area. Data terbaru menunjukkan Telkomsel saat ini sudah kembali menjadi yang terbanyak pelanggan BIS-nya. Hal ini dipengaruhi tak lain dan tak bukan karena luasnya area pelayanan BIS hingga ke pelosok. Masyarakat cukup nyaman mengetahui bahwa BlackBerry-nya akan tetap mendapatkan GPRS atau EDGE besar jika dibawa ke daerah manapun. Ini sampai sekarang masih belum ditandingi oleh operator lain, meskipun Indosat sebagai pionir mengekor dengan ketat.

Hal kedua adalah menjamin kecepatan minimal layanan BIS-nya. Daripada mengiklankan kecepatan up to sekian Mbps, lebih baik operator menjamin hal seperti MINIMAL kecepatan yang bisa diperoleh adalah 384 Kbps untuk 2G, ataupun 1Mbps untuk 3G. Ini jauh lebih menyenangkan ketimbang mengatakan kecepatan teoritis up to sekian Mbps, tapi di jam-jam sibuk kecepatannya drop hingga cuma di bawah 100 Kbps.

Hal lain yang bisa dieksplorasi lebih lanjut adalah peningkatan kerjasama roaming internasional yang lebih luas, memungkinkan masyarakat untuk membawa layanan BIS-nya di negeri seberang tanpa khawatir tagihannya jebol. XL Axiata sudah memulainya dengan harga IDR25,000 untuk paket pascabayar saat roaming di sejumlah negara di Asia. Ada baiknya kerjasama diperluas lagi, misalnya ke Australia, dan bahkan negara-negara Eropa dan Amerika.

Solusi ultimate layanan ini adalah adanya paket global roaming, memungkinkan adanya satu harga saat dibawa bepergian ke manapun di belahan dunia ini. Paket semacam ini sudah ditawarkan oleh Verizon Wireless dari USA dan kabarnya sejumlah orang Indonesia yang memang sering sekali bepergian untuk bisnis sudah menggunakannya. IDR500,000 – 1 juta per bulan untuk layanan global roaming, kenapa tidak?

Dari penjelasan-penjelasan di atas, tampak bahwa masih ada sejumlah ruang yang bisa diambil operator sebagai nilai tambah layanannya ketimbang perang harga. Maukah alternatif-alternatif itu diambil ketimbang jor-joran menurunkan harga tanpa mempertimbangkan kualitas layanan, itulah pertanyaannya.

XL Axiata turunkan harga paket BlackBerry Internet Service bulanan

xl-bb-one-turun-harga

XL Axiata, operator terbesar ketiga di Indonesia berdasarkan jumlah pelanggan, melakukan gebrakan untuk memulai “perang tarif” layanan akses Internet BlackBerry. Tarif bulanannya yang sebelumnya adalah IDR140,000 saat ini diturunkan secara permanen menjadi IDR99,000, berlaku baik untuk pelanggan baru dan lama, prabayar dan pascabayar. Harga hariannya sendiri adalah tetap, IDR5,000.

Sebelumnya sudah ada dua operator pendatang baru yang menawarkan harga BIS di kisaran IDR100,000 atau kurang, AXIS dan Tri. Strategi ini nampaknya cukup sukses mendatangkan peminat yang mencari kepuasan baru dalam mengoptimalkan BlackBerry-nya. XL Axiata yang terlibat persaingan ketat merebut pelanggan dengan Telkomsel dan Indosat, tentunya mensiasati hal ini dengan memberikan harga yang jauh lebih murah dari kedua pesaingnya.

Perang harga antar operator bukanlah barang baru. Dulu kita sempat mengalami perang tarif telepon dan SMS hingga IDR 0 koma sekian sekian yang sampai sekarang masih bikin bingung cara menghitungnya. Penurunan tarif tentu saja disambut baik, tapi diharapkan tidak mengorbankan kualitas karena kebanyakan pengguna BlackBerry adalah kalangan menengah ke atas yang lebih sensitif terhadap kualitas dan reliabilitas, ketimbang harga.

[juga dimuat di blog fring Indonesia]

XL luncurkan BlackBerry prepaid roaming

xl-prabayar-intl-roaming

Mungkin ini layanan perdana bagi produk BlackBerry Internet Service (BIS) prabayar di Indonesia. XL prabayar memberikan kemudahan bagi pengguna BlackBerry untuk membawanya ke sejumlah negara di Asia untuk tetap menggunakan XL dan menikmati BlackBerry prepaid roaming dengan harga terjangkau, IDR50,000 per hari.

Lebih mudah dibanding BlackBerry postpaid roaming, Anda tinggal mengirim SMS BB ROAMING ke 568 atau melalui menu *123# dan Anda bisa menikmati International BB Roaming ke Jepang, Hong Kong, Singapura, Malaysia, Kamboja, Sri Lanka, dan Bangladesh. Secara otomatis jika Anda sudah kembali ke tanah air layanan ini akan distop dan kembali ke paket reguler.

Memang harga ini 2x lebih mahal dibanding paket BB postpaid roaming yang “hanya” IDR25,000 per hari, tapi Anda harus mengurus sendiri ke XL Center terdekat bagi paket pascabayar ini. Untuk selain Jepang, promo ini berlaku hingga 31 Desember 2010, sementara khusus untuk Jepang (melalui Softbank) hanya sampai 30 Maret.

Untuk urusan roaming internasional memang XL juaranya. Indosat memberikan penawaran yang lebih mahal, sementara Telkomsel dan AXIS sendiri tidak punya informasi apapun soal BB roaming ini, sehingga diasumsikan harus menggunakan APN partner lokal.

Alternatif untuk roaming internasional, misalnya Anda bepergian ke Singapura, adalah StarHub prabayar. Cukup dengan SG$10 (sekitar IDR70,000) untuk 3 hari atau SG18 (sekitar IDR126,000) untuk 7 hari Anda bisa menikmati layanan unlimited bagi APN BlackBerry individual (bukan corporate) plus tambahan sejumlah data dengan APN lokal.

[image courtesy of Johan Tahardi from ID-BlackBerry mailing list]