HiFone F06: Blackberry Storm versi murah

3

Vendor ponsel asal China memang juaranya kloning. Mulai dari iPhone 3G, Blackberry Bold, sampai iPod pun ada tiruannya. Kali ini, giliran Blackberry Storm yang punya saudara kloning. Namanya HiFone F06.

Dengan banderol $190, ponsel quad band GSM ini sebenarnya termasuk cukup atraktif. HiFone F06 datang dengan TV Tuner, dual SIM, layar sentuh tipe TFT 3.4 inchi, kamera 1,3 MP, Radio, Java, Bluetooth, MP3 & MP4 player, memori internal 2GB, slot microSD, dan ……. Wifi! Fitur terakhir sebenarnya layak dipertanyakan untuk ponsel dengan harga $190.

3

HiFone F06 tampaknya belum ada di Indonesia, tapi setelah dimuat di gadnix, saya harap akan ada vendor yang mengimpornya ke Indonesia. Jika dijual dengan embel-embel dukungan untuk Facebook, ponsel ini mungkin akan jadi produk yang best selller laiknya Nexian Berry.

Source | Product Pages

Sekilas pameran BlackBerry Storm Telkomsel

blackberry storm telkomsel booth

Untuk lebih melengkapi cerita sebelumnya tentang iklan pameran BlackBerry Storm oleh Telkomsel, saya akhirnya datang melihat langsung ke Senayan City untuk melihat langsung. Secara umum, saya bisa bilang animo masyarakat cukup luar biasa. Pelanggan berjubel untuk MEMBELI, tidak hanya sekedar melihat-lihat.

Storm sendiri ditawarkan oleh Telkomsel di harga 6.99 juta (tapi di pameran nampaknya ada diskon) plus gratis 1 bulan berlangganan BIS Telkomsel. Harga ini lebih murah dibanding harga resmi Bold yang masih di kisaran angka 7 juta, meskipun BM-nya jauh lebih murah dibanding harga itu.

Dari awal masuk “gapuranya”, Telkomsel sudah mengklaim sebagai “the biggest BlackBerry operator in Indonesia”. Persis seperti dugaan saya sebelumnya, Telkomsel memang menggunakan ajang ini untuk menelikung Indosat yang menurut data terakhir masih sebagai operator dengan subscriber BlackBerry terbesar.

Telkomsel sebelumnya sudah “kecolongan” konsumen saat menjadi yang terakhir di peluncuran Bold dan Curve 8900, dan tak mau mengulangi kesalahan untuk ketiga kalinya. Penjualan lebih dulu dibanding para pesaingnya artinya merebut pangsa pasar potensial yang lebih besar. Storm di sini tentunya diharapkan mendongkrak jumlah subscriber BIS Telkomsel untuk mempertegas self-claim “the biggest BlackBerry operator” tadi.

Di booth tengah saya temui 4 handset Storm aktif yang memang diperuntukkan untuk calon pembeli. Saya pun mencoba salah satu diantaranya. Secara built factor, handset Storm memiliki tampilan yang menarik. Sangat enak untuk digenggam, lebih enak dibanding Curve 8900, meskipun tidak memiliki penutup batere senyaman Bold.

Tampilan resolusi gambarnya pun sangat baik, sama baiknya seperti Curve 8900 (480×360). Untuk front screen, Storm secara default memiliki 2 baris icons, lebih banyak dibandingkan Curve 8900 dan Bold yang hanya 1 baris. Tentunya tidak ada keyboard yang menghalangi kelegaan tampilan layarnya yang berukuran diagonal 3.25 inch.

Pertama saya tes adalah fitur accelerometer-nya. Fitur ini mulai umum digunakan terutama untuk ponsel yang menggunakan layar sentuh, di mana tampilan layar akan mengikuti gerakan tangan yang memegangnya, baik horizontal maupun vertikal. Untuk Storm sendiri, fitur ini bekerja dengan baik mengikuti arah gerakan tangan, meskipun saya akui tidak seresponsif iPhone 3G.

Fitur kameranya juga serupa dengan Curve 8900, ber-resolusi 3.2 megapiksel. Untuk bagian lain, saya kira tidak jauh berbeda dibanding 2 ponsel sebelumnya, kecuali Wi-Fi. Sangat disayangkan bahwa Storm sama sekali tidak memiliki fitur Wi-Fi sama sekali. Untung saja petinggi RIM mendengar keinginan konsumennya. Atlas atau Storm 2, yang nampaknya akan diluncurkan paling cepat akhir tahun, akan memiliki fitur Wi-Fi. Sekilas tentang Atlas ini akan dibahas di artikel yang lain.

blackberry storm

Berikutnya yang saya tes adalah layar sentuhnya. Ini adalah fungsi critical yang membedakan Storm dengan ponsel BlackBerry lainnya. Sebagai sebuah ponsel bisnis, Storm tentunya harus capable untuk menangani input data yang cepat dan banyak. Storm harusnya dapat memenuhi ekspektasi ini.

Sayang sekali, saya –entah belum terbiasa atau memang sulit– tidak mampu untuk menulis satu baris dengan baik menggunakan virtual QWERTY keyboard yang disediakan oleh Storm. Ini sangat bertolak belakang dengan layar sentuh iPhone yang harus diakui memiliki user experience yang jauh lebih baik. Bagaimana bisa menikmati Storm jikalau menulis untuk SMS/Email/chatting saja sulit?

Sebagai kesimpulan, saya pribadi tidak terlalu tergoda dengan produk Storm ini. Ponsel BlackBerry adalah ponsel yang didesain untuk menginput data di mana saja dan kapan saja. Dedicated keyboard sampai sekarang buat saya masih menjadi solusi terbaik untuk kebutuhan tersebut.

Jikalau Anda memang minat untuk menggunakan ponsel layar sentuh, iPhone 3G buat saya memberikan kenyamanan lebih tentunya dengan harga yang lebih tinggi. Bisa jadi alternatifnya adalah menunggu hingga munculnya Storm 2 yang mungkin menawarkan layar sentuh yang lebih responsif.

Update:

Thanks to @ochels, ini ada informasi untuk meningkatkan “kenyamanan” menggunakan layar sentuh Storm. Silakan dicoba.

Telkomsel pun jualan BlackBerry Storm

telkomsel-bbstorm

Ada yang salah dengan iklan di Kompas cetak hari ini (15-5-2009) di atas? Seharusnya tidak ada. RIM sebagai pembuat BlackBerry sekarang memang sedang meningkatkan animo masyarakat terhadap BlackBerry Storm yang rencananya diluncurkan bulan Mei ini melalui Indosat ternyata “ditelikung” oleh Telkomsel, operator terbesar negeri ini.

Storm sebagai ponsel BlackBerry pertama berlayar sentuh akan dijual di kisaran harga 6.99 juta –sedikit lebih murah dibanding harga pasaran resmi Bold. Telkomsel akan mengadakan pameran Storm di akhir pekan ini di Senayan City dengan bonus-bonus tertentu. Jadi apa yang salah?

  1. Telkomsel biasanya selalu menjadi yang terakhir meluncurkan ponsel BlackBerry. Kenyataannya demikian karena Telkomsel bukanlah operator yang memiliki kerjasama langsung dengan RIM. Selama ini jaringan server BIS Telkomsel selalu melalui operator perantara SingTel sebagai salah satu induk perusahaannya
  2. Telkomsel juga jualan iPhone 3G! Sejujurnya secara proses bisnis, Storm ini seharusnya “hanya” akan bersaing dengan sesama ponsel BlackBerry yang lain, seperti Bold dan Curve 8900, tapi karena Telkomsel baru beberapa waktu yang lalu meluncurkan iPhone 3G, nampaknya mau tak mau bakal ada pangsa yang beririsan karena keduanya sama-sama memiliki ponsel layar sentuh, meskipun beda segmentasi

Analisis pertama saya terhadap langkah Telkomsel ini adalah mereka sebagai operator telekomunikasi terbesar di Indonesia juga ingin diakui sebagai pemilik pangsa terbesar untuk segmen ponsel bisnis BlackBerry yang selama ini direngkuh oleh Indosat. Buat Telkomsel, posisi nomor 2 bisa jadi cukup memalukan.

Walaupun Indosat (waktu itu Satelindo) didirikan lebih dahulu, sudah bukan rahasia lagi bahwa Telkomsel adalah anak emas telekomunikasi seluler Indonesia. Keterlambatan memasuki pasar, seperti terjadi di saat peluncuran Bold dan Curve 8900, membuat Telkomsel hanya mengais pasar yang tersisa dan loyal terhadap Telkomsel (misalnya sudah menjadi pelanggan sejak lama).

Penjualan perdana artinya mengambil pasar potensial sebelum direbut oleh para pesaingnya. Sebentar lagi BlackBerry akan masuk ke pasar CDMA melalui Starone. Selain itu operator GSM lain, seperti Axis, juga sedang dalam negosiasi untuk menjadi operator partner RIM. Terlambat langkah sedikit akan menghambat langkah Telkomsel sebagai juara di kelas ini. Pasar BlackBerry dengan ARPU rata-rata yang tinggi jelas sangatlah sayang untuk dilewatkan.

Analisis berikutnya adalah bisa jadi pasar iPhone 3G ternyata belum segitunya memberikan hasil. Penjualan iPhone 3G memang meledak di Jakarta, tapi kesuksesan itu tidak diikuti di kota-kota lain. Harga yang lebih mahal dibanding harga luaran menjadi tersangka utama hasil ini. Telkomsel justru akan memberikan kompetitor internal untuk membuktikan layar sentuh mana yang lebih bagus, Storm atau iPhone 3G.

Jika iPhone 3G yang menang bisa jadi ini meningkatkan animo masyarakat untuk memilih iPhone 3G. Suatu langkah “kanibal” yang mungkin mengorbankan satu produk demi produk yang lain. Apakah Apple dan Telkomsel ataupun Telkomsel dan RIM tidak ada perjanjian apapun soal ini?

Posted via email from amirk’s posterous

BlackBerry Storm, bakal menyaingi iPhone 3G di Indonesia?

Tadi malam, BlackBerry Storm –generasi pertama produk RIM dengan layar sentuh– diluncurkan oleh partner utama RIM di Indonesia, Indosat. Dilaksanakan di Plaza FX, peluncuran perdana ini belum akan menyediakan Storm secara ready stock. Storm baru akan tersedia untuk publik mulai bulan Mei depan. Meskipun demikian, masyarakat yang berminat bisa melakukan pre-order di situs Indosat.

Selain Indosat, XL juga akan segera menawarkan Storm. Tidak jelas kondisinya dengan Telkomsel, yang baru saja meluncurkan iPhone 3G. Saya pribadi cenderung yakin bahwa Telkomsel tidak akan menjual Storm, you know why :P

Storm sendiri diposisikan sebagai pesaing utama iPhone 3G, selain Samsung Omnia, LG Cookie, Sony Ericsson Xperia X1, ataupun Nokia 5800 XpressMusic yang kesemuanya menggunakan layar sentuh tanpa adanya suatu dedicated keyboard. Storm sendiri pertama kali diluncurkan di USA di bulan November tahun lalu. Sebelumnya sejumlah unit Storm telah masuk secara ilegal ke Indonesia. Saya sempat “menangkapnya” ketika dijual dengan harga semena-mena di sebuah toko gadget di Plaza FX (juga).

Storm diluncurkan dengan 2 varian. Yang pertama adalah 9500 yang mengusung frekuensi GSM (saja). Berikutnya adalah 9530 yang memiliki dual frekuensi dengan CDMA. Setahu saya, versi dengan CDMA hanya ditawarkan oleh Verizon Wireless di USA. Storm secara umum memiliki spec yang tidak jauh dibanding Bold ataupun Curve 8900, meskipun tidak dilengkapi oleh Wi-Fi! Untungnya, RIM baru-baru ini mengkonfirmasi bahwa akan ada “Storm 2″ yang dilengkapi dengan Wi-Fi (dan tentunya sejumlah perubahan lainnya).

Sama-sama dibayangi oleh peluncuran versi yang lebih baru, saya cenderung memprediksikan Storm tidak akan sesukses iPhone 3G. Kenapa demikian? Berikut adalah alasan-alasannya:

  1. BlackBerry tetap butuh keyboard. Meskipun Storm diposisikan untuk lebih bersaing dalam hal multimedia (terhadap iPhone 3G), pengguna Storm tetap membutuhkan kenyamanan dalam menggunakan tuts keyboard. Meskipun RIM mengklaim bahwa keyboard SurePress sangat responsif, pengalaman “mengetik dengan tuts” adalah sesuatu yang masih bersifat semi-wajib bagi crackberry –sebutan bagi BlackBerry addicts–
  2. Kemampuan multimedia Storm belum selengkap iPhone 3G. Kita semua tahu jika urusan aplikasi, iPhone (dan App Store) adalah rajanya. RIM cenderung (terlalu) selektif dalam membolehkan suatu aplikasi terdaftar di listing aplikasinya (belum tahu apakah AppWorld masih seperti ini), membuatnya tertinggal terhadap dukungan pihak ketiga
  3. Sudah ada pendahulunya, Bold dan Curve 8900. Pasar BlackBerry –walaupun potensial– cenderung didominasi oleh kaum muda di kota besar. Karena ceruk ini sudah ter-expose oleh Bold dan Curve 8900, saya yakin bahwa yang beralih ke Storm tidak akan banyak, kecuali memang kebanyakan duit untuk dibuang-buang. Harga yang ditawarkan saya yakin tidak akan jauh lebih murah dari harga perkenalan Bold setahun yang lalu
  4. Ditemukan sejumlah bugs saat pertama kali dluncurkan. Masih ingat review mengejutkan dari New York Times tentang Storm? Review dari jurnalis berpengaruh seperti itu, walaupun mungkin sebagian sudah diperbaiki, tentunya cukup berpengaruh bagi calon pembeli untuk berpikir dua kali. Sedikit banyak tentunya juga ada efeknya untuk pembeli di Indonesia
  5. Storm masih BlackBerry, bukan Apple. Ya, memang masyarakat Indonesia selalu suka yang baru. Dulu Nokia Communicator diburu-buru, berikutnya BlackBerry menjadi primadona. Kini Apple menawarkan sesuatu yang yang mungkin bisa jadi ponsel sejuta umat yang baru. Storm, di sisi lain, tidak menawarkan sesuatu yang benar-benar baru, meskipun sudah berlayar sentuh. Interface BlackBerry-nya ya serupa tak sama lah dengan Bold ataupun Curve 8900. Beda tipis lah..

Lima alasan di atas bisa jadi belum cukup kuat untuk menjadikan pembeli berpaling. 80 ribu pelanggan Indosat, 75 ribu pelanggan Telkomsel, dan 55 ribu pelanggan XL, yang kesemuanya menggunakan layanan BlackBerry bisa jadi bertambah setelah datangnya Storm ini. Mungkin pembaca sekalian bisa ikut urun pendapat tentang kemungkinan Storm menjadi pesaing kuat iPhone 3G, khususnya di Indonesia?

[Foto oleh Budi Putra]

7 hal kenapa tidak perlu BlackBerry

blackberry

Setelah kami mengulas tentang hal-hal yang bisa mendorong Anda untuk tidak memiliki iPhone, kini sebagai pembanding kami memberikan sejumlah saran, terutama bagi Anda yang biasanya menempatkan gadget sebagai alat gaya hidup, perlu atau tidaknya Anda memiliki handset BlackBerry. BlackBerry seperti kita tahu saat ini sudah menjadi bagian terbaru dari gaya hidup masyarakat kota besar di Indonesia dengan adanya paket data dari 3 operator GSM ternama.

Tentunya hal-hal berdasarkan pertimbangan fungsionalitas semata, yang bisa saja Anda acuhkan ketika dana yang dimiliki berlimpah dan Anda berada dalam kondisi berlomba-lomba menjadi yang terdepan dalam kepemilikan gadget, meskipun belum tentu digunakan semua fiturnya.

Langsung saja, berikut adalah daftar kenapa Anda tidak perlu BlackBerry:

  1. Tidak butuh push email. Ini merupakan syarat wajib untuk handset BlackBerry. Kemahiran BlackBerry mengolah push email dengan bentuk compact dan masuknya email hampir bersamaan seperti di komputer biasa melambungkan nama RIM sebagai yang terdepan dalam penyediaan ponsel bisnis. Jika Anda bukanlah pengguna hard core email dan tidak biasa untuk sering-sering mengecek email, seharusnya BlackBerry bukanlah untuk Anda
  2. Butuh banyak aplikasi dan games. RIM, sebagai pembuat BlackBerry, dikenal sangat selektif untuk menentukan aplikasi mana yang berhak dimasukkan ke BlackBerry atau tidak. Kebijakan ini berbeda dengan langkah yang diambil oleh Symbian dan Apple yang membolehkan siapapun membuat aplikasi untuk S60 dan iPhone. iPhone kini bahkan memiliki lebih dari 15.000 aplikasi yang tersedia di Apple App Store. Kebijakan RIM ini membuat jumlah aplikasi yang tersedia untuk BlackBerry tidak sebanyak dua handset saingannya.  Memang RIM sudah (akan) membuat BlackBerry App World, tapi agak diragukan keefektifan App World ini untuk mendongkrak jumlah aplikasi di BlackBerry
  3. Butuh ponsel dengan batere tahan lama. Sudah bukan rahasia lagi bahwa kemampuan push email yang terus-terusan aktif sangat menguras kekuatan batere. Lha wong ponsel biasa saja jika dipakai telpon non stop saja pasti habis batere-nya dalam waktu 3-4 jam saja. Rata-rata handset BlackBerry dengan push email aktif memiliki waktu aktif batere selama 20-24 jam, sehingga perlu di-recharge setiap hari. Tidak suka nge-charge setiap hari? Jangan pakai BlackBerry kalau begitu
  4. Butuh dukungan purnajual (khusus di Indonesia). Ya ini memang dilema di Indonesia. Memang jika kita beli secara resmi melalui operator, dijamin adanya garansi satu tahun. Tapi garansi ini mungkin baru bisa dipakai saat barang yang dipakai benar-benar parah kerusakannnya dan tidak bisa digunakan lagi karena adanya product defect. Jika tiba-tiba handset Anda terjatuh dan meninggalkan “noda” yang tidak menyenangkan, akan menjadi sangat sulit untuk mencari perbaikannya atau membeli sparepart barunya. Semoga keluhan ini bisa didengar oleh pihak RIM yang memang rumornya akan segera secara resmi masuk ke Indonesia untuk penyediaan service center
  5. Butuh fitur radio. Memang tidak semua orang butuh, tapi orang seperti saya kadang-kadang bosan dengan playlist yang itu-itu saja di media player. Radio bisa jadi alternatif untuk mendengarkan playlist yang baru, penyiar yang asyik, ataupun acara yang memberi pengetahuan bermanfaat, seperti Career Coach ataupun Financial Clinic, keduanya di Hard Rock FM Jakarta. BlackBerry sayangnya belum memiliki fitur radio secara built-in untuk semua device-nya. Dengar-dengar sih ada software yang memungkinkan untuk mendengarkan radio secara streaming, tapi saya belum tahu ada versi yang legit/valid dan gratis
  6. Butuh bluetooth untuk menerima transfer file. Ini salah satu fitur pertama yang terasa banget manfaatnya ketika Anda beralih ke BlackBerry. Anda tentunya ingin mentransfer addressbook, berkas media, ataupun simpanan SMS ke BlackBerry baru Anda. Sayang seribu sayang, bluetooth yang ada di BlackBerry tidak mau menerima transfer dari ponsel yang lain. Terpaksalah kita transfer dulu ke komputer, baru dari komputer melalui Desktop Tools, kita transfer lagi ke BlackBerry. Cukup menyita waktu! Meskipun demikian, bluetooth BlackBerry masih bisa digunakan untuk mentransfer berkas ke device lainnya
  7. Butuh handset sebagai modem. Koneksi 3G dan HSDPA yang dipunyai oleh BlackBerry sayangnya tidak bisa digunakan sebagai modem Anda (istilahnya tethered modem) untuk berselancar Internet di komputer dengan mudah. Setau saya, hanya beberapa jenis BlackBerry yang dibolehkan untuk berlaku sebagai modem, misalnya seri 8707v, 8800, dan 83xx. Seri terbaru seperti Bold, Curve 8900, Pearl Flip 8220, ataupun Storm, nampaknya hanya akan membuat Anda terpaku dengan handset semata tanpa membolehkan sharing konektivitas Internet dengan komputer. [update: menurut link terbaru ini ternyata seri-seri baru, seperti Storm, Bold, dll, bisa dijadikan sebagai tethered modem. Hanya memang sebagai modem tidak akan bisa menggunakan fasilitas APN BlackBerry, dan akan dikenakan tarif GPRS biasa].

Setelah menelaah 7 6 hal di atas, apakah ada diantara alasan-alasan tersebut yang membuat Anda berpaling dari BlackBerry?