
Ketika Samsung merilis bada, banyak gadget blogger yang rada menyindirnya. Umumnya sindiran itu lebih mengarah ke dugaan bahwa Samsung hanya ingin meniru-niru Apple dengan App Store-nya, Google dengan Android Market Place-nya, atau Nokia dengan Ovi Store-nya. Singkat kata, “paling Si Sammy mau cari untung lagi”. Meminjam kutipan Steve Jobs, “Well, they just creating products, not culture.” [Ini sindiran Jobs untuk perusahaan yang suka mem-Beo, Microsoft maksudnya]
Meniru memang baik tapi menjiplak juga tidak jelek
Kalau memang bisa untung dengan bada , kenapa tidak? Lagipula, keputusan utama Samsung untuk membuat divisi Samsung Mobile adalah mencari untung sebesar-besarnya bukan? Sebelum ada ponsel bermerk Samsung, dunia sebenarnya sudah lumayan sesak dengan ponsel dari Nokia, Motorola, Sony, Ericsson, Siemens, dll. Lalu buat apa memproduksi kotak persegi panjang yang intinya hanya untuk menelepon dan mengirim pesan? Bukankah dunia sudah punya banyak?
Nasionalisme dalam teknologi
Kalau kita berkunjung ke Korea Selatan, kita akan mendapati pemandangan unik. Umumnya warga pribumi di sana lebih cenderung untuk menggunakan produk-produk dalam negeri ketimbang produk luar. Jadi kita tidak perlu terkejut ketika orang-orang Korsel lebih senang dengan ponsel bermerk Samsung, LG, dan Pantech ketimbang Nokia, Blackberry, Motorola, dll. Atau kita tidak usah heran juga kalau jalan-jalan di Seoul padat dengan mobil berlogo Hyundai dan Kia alih-alih Toyota atau BMW. Bung, orang Korea memang cinta mati dengan bangsanya sendiri. What about us?
Baik untuk dunia, baik untuk Korea
Kasus serupa kini terjadi di ranah mobile OS. Saat ini, industri ponsel memang sedang hingar bingar dengan kelahiran sistem operasi khusus: Android, Symbian, iPhone OS, Blackberry OS, Windows Mobile, WebOS, dll. Dan kini, yang paling baru, bada.
So, dengan begitu banyaknya OS tersedia, adakah developer yang akan mendukung Bada? Mungkin orang-orang yang terlibat dalam tim iPhone-dev bukanlah tipikal developer yang mau mendukung bada. Pun begitu dengan orang-orang Finlandia yang sudah jatuh hati dengan Symbian milik Nokia. Tapi bagaimana dengan mahasiswa-mahasiswa Korea Selatan? Apakah mereka akan mendukung bada? Ah, saya rasa saya tahu apa jawab para mahasiswa Korsel yang sangat nasionalis itu, “kenapa tidak?!”
Masa depan bada
Sebelum benar-benar diujicoba di pasar, tak akan ada yang tahu bagaimana nasib bada beserta armada ponsel pendukungnya setahun atau dua tahun nanti. Mungkin bada akan layu sebelum berkembang. Atau bahkan “hidup” dalam kurun waktu seminggu seperti cuil yang naas itu. Apapun itu, satu hal yang sudah pasti terjadi dari lahirnya bada adalah bahwa Samsung sudah bangga dan berani membuka pintu bagi para developer-developer lokalnya untuk menguji coba karya-karya mereka dalam samudera ponsel buatan anak bangsa mereka sendiri.
Go Ahead Samsung, start it up!

Wear one. Get one !



