Nokia Booklet 3G di Indonesia

16 Nokia-Booklet3G 9

Di Amerika Serikat, Nokia Booklet 3G sudah bisa dipesan via Best Buy sejak 15 November lalu. Netbook ala Nokia ini dibanderol dengan harga $599,99 untuk beli-putus atau $299,99 untuk beli-kontrak dengan AT&T. Dengan label harga mendekati 6 jutaan, harga Nokia Booklet 3G mungkin akan menjadi sekitar Rp 7 jutaan jika sudah sampai di Indonesia.

Nokia Booklet 3G di Indonesia. Mungkinkah?

Saya optimis bahwa Nokia akan menjual Booklet 3G-nya di negeri Cicak & Buaya. Faktor utama tentu saja adalah karena besarnya minat orang-orang Indonesia terhadap netbook. Di samping itu, vendor ponsel terbesar dunia ini juga sudah mempunyai brand name dan infrastruktur yang bagus untuk mengorbitkan “smartphone super besar” ini ke counter-counter ponsel ….. atau komputer.

Sekilas tentang Nokia Booklet 3G

Dari segi fisik, Nokia Booklet 3G sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kebanyakan netbook lain. Bahkan dengan dukungan Windows 7 pun, gadget dengan layar 10 inchi tampaknya tetaplah bukan primadona. Satu-satunya keunikan dari Booklet 3G adalah bahwa produk ini merupakan netbook pertama yang bertuliskan logo NOKIYEM NOKIA.

Wear one! Now only 55 ribu [Distro Kaos]

Nokia Booklet 3G: siap masuki pasar netbook

Kita-kita yang selama ini tahu bahwa Nokia hanya membuat berbagai model ponsel sekarang harus menggeser paradigma bahwa Nokia adalah suatu perusahaan elektronik. Tak hanya ponsel, Nokia akhirnya meluncurkan produk notebook mini perdananya yang diberi nama Booklet 3G. Apa yang Anda bayangkan jika pembuat ponsel membuat notebook? Tentunya konvergensi yang sangat baik. Tidak salah, Booklet 3G ini akan dilengkapi dengan berbagai konektivitas layaknya suatu ponsel.

Secara fisik Booklet 3G ini akan menggunakan prosesor Intel Atom, berukuran 10.1 inch, berdimensi 264×185 mm, port HDMI, berat 1.25 kg, dan diklaim memiliki battery life hingga 12 jam. Untuk segi konektivitas, Booklet 3G mempunyai koneksi Wi-Fi b/g/n, 3G mobile broadband, Bluetooth, dan A-GPS. Sistem operasinya sendiri akan menggunakan Windows — mungkin Windows 7, serta layanan terintegrasi Ovi Services untuk pengaksesan berbagai macam konten.

Nokia Booklet 3G rencananya akan dipamerkan di ajang Nokia World 2009, 2-3 September ini di Stuttgart, Jerman. Di sini kemungkinan besar kita akan mengetahui berapa harga yang dipatok dan kapan produk ini mulai dipasarkan untuk umum. Anda tertarik?

Disclaimer: tulisan ini juga dimuat di blog fring Indonesia

Tips membeli netbook untuk Orang Indonesia (OI)

eeepc

Netbook merupakan varian baru dari notebook/laptop yang hadir dengan layar lebih kecil, bobot yang lebih ringan, dan prosessor yang hemat energi. Para vendor menawarkan varian ini sebagai perangkat mobile yang memungkinkan penggunanya untuk mengakses internet menggunakan Wi-fi.

Kesuksesan ASUS dalam menjual netbook seri EEEPC yang dilepas dengan harga di bawah US$500 telah memicu pabrikan komputer lain untuk masuk ke dalam pasar laptop mini ini. Beberapa diantaranya bahkan sudah menjejali rak-rak toko komputer Indonesia. Nah untuk itulah, agar anda tidak salah dalam memilih, mungkin ada baiknya bila anda menyimak tips berikut.

Continue reading

HP Mini Vivienne Tam mulai dipasarkan di Indonesia

hp-vivienne-tam-netbook-fashion

Para wanita di negeri ini tentu senang dengan kenyataan bahwa limited edition dari HP Mini akhirnya benar-benar masuk Indonesia. HP Mini berwarna merah yang dirancang oleh Vivienne Tam ini sudah mulai dipromosikan di sejumlah media wanita terkemuka dan ditawarkan oleh Bhinneka secara terbatas.

Ya, Bhinneka mendapatkan kesempatan untuk menjual 10 unit produk Hewlett Packard yang memang ditujukan untuk wanita aktif, mobile, dan bercita rasa fashion tinggi. Ukuran netbook ini, seperti yang terlihat di gambar atas adalah 10.2 inch. Beratnya sendiri adalah hanya 1.09 kg.

Continue reading

Netbook di Indonesia, quo vadis?

lg-xnote-mini-netbook

Salah satu “trend” yang berkembang di tahun 2008 dan saya prediksikan akan berlanjut di tahun ini adalah “netbook”. Netbook secara istilah bisa diartikan sebagai notebook berlayar kecil, antara 7 hingga 11 inch (12 inch saya kira seharusnya belum bisa dikategorikan sebagai netbook), dengan performa lumayan (lebih rendah dibanding notebook tentunya), dan berharga murah atau “sangat murah”.

Di US sendiri, penjualan netbook sudah mendominasi pasar notebook. Berdasarkan hasil penjualan di Amazon, best seller di kategori PC sudah didominasi oleh netbook. Di jajaran 10 besar, hanya Macbook yang terdaftar sebagai notebook berlayar >12 inch. Asus EEE PC, Samsung NC10, Acer Aspire One, dan MSI Wind adalah raja diraja di perang notebook yang baru.

Salah satu pemicu booming-nya pasar netbook adalah krisis ekonomi global. Penyusutan budget untuk kebutuhan elektronik keluarga bisa jadi memicu keluarga Amerika untuk berlomba-lomba memiliki netbook, padahal awalnya netbook diposisikan hanya sebagai “notebook kedua”. Harga netbook sendiri buat mereka sangatlah murah. Dengan penghasilan rata-rata “hanya” US$ 2000 per bulan misalnya, netbook berharga US$ 300-400 seharusnya bisa dibeli dengan menyisihkan dana selama dua bulan (atau bahkan bisa langsung tanpa budgeting).

Bagaimana dengan Indonesia? Berdasarkan pengamatan saya, nampaknya pasar netbook belum semeriah di Amerika. Sangatlah jarang saya melihat ada orang di mall yang nongkrong dengan netbook-nya. Masih lebih banyak orang bawa Macbook malah. Memang saya belum ada survei menyeluruh tentang ini, tapi pengamatan umum bisa jadi tidak jauh meleset.

Ada sejumlah alasan yang mendasari kondisi ini. Berikut adalah beberapa alasan menurut analisis saya:

  1. Harga vs Performa. Rata-rata harga netbook di Indonesia lebih mahal dibanding di Amerika. Ini disebabkan pajak dan “ongkos-ongkos” yang lain yang justru makin menjauhkan netbook dari citra murah. Dengan performa yang tidak jauh berbeda, orang di Indonesia lebih memilih membeli notebook 14 inch second dengan harga yang lebih murah, layar lebih mumpuni, dan performa yang belum mengecewakan
  2. Kurang promosi dan insentif. Ini kesan saya dari iklan-iklan yang biasa nampang di koran. Netbook hanya diiklankan saat awal-awal peluncurannya. Tidak ada pula iklan netbook di situs komputer macam Bhinneka, bahkan netbook berukuran 9 inch bisa ditawarkan lebih mahal dibandingkan yang 12 inch. Seberapa sering Anda melihat pameran netbook di mall misalnya? Sangat sedikit. Ini berarti tidak ada insentif ataupun usaha intensif dari produsen netbook di Indonesia untuk mempromosikan produknya
  3. Gaya hidup. Satu lagi alasan yang bisa jadi hanya ada di Indonesia. Kepemilikan netbook belumlah menjadi bagian dari gaya hidup. Dengan dana yang sama, masyarakat cenderung akan lebih memilih membeli BlackBerry yang bisa dimasukkan ke saku (dibanding VAIO P?), lebih enak dibawa ke mana-mana, dan sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Atau jika bersedia menabung lebih lama, Macbook tentunya lebih memiliki prestise.

Dengan sedikitnya 3 alasan di atas, saya melihat 2009 belum menjadi momen yang tepat untuk netbook berkembang di Indonesia. Saya pikir hanya ada 1 alasan di mana netbook tiba-tiba bisa booming di Indonesia. Alasan tersebut adalah jika Apple mengeluarkan versi “kecil” dari Macbook. Saya yakin hal tersebut akan menjadi stimulus yang dahsyat untuk perkembangan netbook, terutama di Indonesia, karena tentunya vendor pasti akan berlomba-lomba membuat produk yang lebih chic supaya pangsa pasarnya tidak direbut oleh produk Apple. Tapi kapan hal tersebut akan terjadi?

[Gambar oleh LG]