Paket Internet Terjangkau Telkomsel

Di tahun 2003, biaya koneksi Internet menggunakan mobile sangatlah mahal. Rata-rata tarif yang dipatok oleh operator saat itu adalah 25 Rp/KB. Bayangkan untuk mengakses 1 MB data yang notabene adalah 1000 KB, mungkin cuma 1 halaman detik.com,  Anda harus membayar 25 ribu Rupiah!

Coba bandingkan dengan kondisi saat ini. Setiap operator jor-joran memberikan promo paket datanya. Satu-dua operator bahkan memberikan keunggulan pengaksesan data gratis sejumlah sekian MB setiap harinya. Anda yang menggunakan ponsel pintar (smartphone) ataupun ponsel lain yang sudah dilengkapi browser dan aplikasi berbasis Java untuk dapat berkoneksi dengan dunia maya tanpa perlu lagi khawatir terkuras isi kantongnya. Continue reading

Evolusi layanan data Telkomsel

Menkominfo dengan kacamata 3D dan data streaming Telkomsel

Menkominfo dengan kacamata 3D dan data streaming Telkomsel

Saya masih ingat ketika saya memiliki layanan Internet pertama di rumah. Itu terjadi sekitar 12 tahun yang lalu. Dial up modem yang saya miliki masih menunjukkan angka 33.6 Kbps, terbaik pada waktu itu, dengan layanan menumpang jaringan telepon dan bunyi khas saat men-dial layaknya saat mengirim data melalui faksimili. Pada saat itu, tampilan Internet masih belum seperti sekarang, kebanyakan hanya berupa teks dan gambar, format Web 1.0 katanya orang-orang. Saat itu, layanan telepon seluler masih hanya untuk menelepon, untuk ber-SMS antar operator pun belum bisa.

Sekarang kita flash forward kembali ke tahun 2010. Semuanya sudah berbeda. Web 2.0, Sosial media, Layanan video streaming, broadband dengan kecepatan minimal 1Mbps, iPhone, Android, dan BlackBerry. Telepon seluer tak hanya digunakan untuk menelepon dan mengirimkan pesan teks, tapi juga sebagai modem untuk berselancar di Internet. Evolusinya bermula dari GPRS, EDGE, 3G, HSDPA, Single Carrier HSPA+, Dual Carrier HSPA+, dan kini yang paling baru dan digadang-gadang sebagai kandidat kuat untuk generasi 4 (4G), Long Term Evolution atau biasa disingkat sebagai LTE.

LTE dan Mobile WiMAX (IEEE 802.16e) adalah dua kandidat kuat platform konektivitas menuju jaringan 4G. Meskipun demikian, keduanya masih disebut sebagai 3.9G karena belum memenuhi seluruh kriteria yang disyaratkan oleh International Telecommunication Union (ITU). Di Indonesia sendiri, Mobile WiMAX tidak diregulasi untuk diimplementasikan oleh pemerintah. Pemerintah memberikan peluang bagi Fixed WiMAX (IEEE 802.16d) dan LTE untuk bersaing memberikan kualitas layanan data tercepat bagi masyarakat.

Telkomsel sebagai operator terbesar di Indonesia berdasarkan jumlah pelanggan, adalah satu di antara sejumlah operator yang berkomitmen untuk memberikan layanan data terbaik bagi masyarakat. Mengikuti evolusi platform layanan data yang telah disebutkan sebelumnya, setelah mengimplementasikan Single Carrier HSPA+ 21Mbps tahun lalu, tahun ini Telkomsel meluncurkan kualitas layanan jaringan Dual Carrier (DC) HSPA+ berkecepatan 42Mbps plus  Departemen R&D mulai melakukan riset dan uji coba tentang teknologi LTE.

Di launching perkenalan teknologi DC HSPA+ dan pemulaian riset dan uji coba LTE, Telkomsel mendemokan video conference secara terbatas kecepatan layanan LTE generasi awal hingga kecepatan teoritis 70Mbps. LTE sendiri menjanjikan kecepatan maksimal 172.8 Mbps untuk antena 2×2 dan 326.4Mbps untuk antena 4×4, di mana keduanya mengutilisasi spektrum 20MHz. Menkominfo sendiri dalam acara ini menyebutkan bahwa implementasi LTE ini baru akan dilakukan paling cepat dua tahun mendatang, meskipun beberapa teman pemerhati teknologi ini meyakini bahwa LTE secara penuh baru bisa diimplementasi sekitar tahun 2015.

Saya pribadi tentunya berharap bahwa teknologi data melalui jaringan seluler tak lagi menjadi jaringan alternatif ketika jaringan fixed broadband macam Telkom Speedy atau FastNet tidak tersedia, terutama di daerah remote. Kita tahu bahwa Internet saat ini dapat menjadi akselerator bagi pembangunan. Jaringan seluler seharusnya lebih handal dan dengan kecepatan minimum tertentu untuk meningkatkan penetrasi Internet ke berbagai daerah, baik sebagai modem maupun pengaksesan melalui ponsel itu sendiri.

LTE yang berkecepatan total throughput hingga 172 Mbps, tentunya akan sia-sia jika kecepatan riil yang diperoleh konsumen perorangan kurang dari 1-3 Mbps, meskipun saya pribadi menginginkan kecepatan yang jauh lebih tinggi misalnya di atas >10Mbps, tak kalah dengan negara maju Internet di kawasan ini yaitu Jepang dan Korea Selatan. Bagaimana memberikan layanan dengan kecepatan tersebut per pengguna tentunya adalah PR utama bagi operator. Semoga ini menjadi perhatian bagi operator penyelenggara dan regulator untuk tetap memberikan yang terbaik bagi masyarakat.

Informasi lebih lanjut tentang perkembangan teknologi terkini Telkomsel dan jaringan LTE dapat diperoleh di halaman berikut ini.

Disclaimer: Tulisan ini adalah tulisan berbayar dengan tetap obyektif menampilkan realitas di masyarakat

Perang tarif BlackBerry Internet Service

Masih tentang BlackBerry Internet Service (BIS), setelah sebelumnya XL Axiata menurunkan harga paket BlackBerry Internet Service bulanannya secara permanen, kini AXIS juga melakukan hal yang sama. Harga paket bulanan AXIS versi unlimited saat ini menjadi IDR 79,000 per bulan, beda tipis dengan harga “paket hemat”-nya. Secara tidak langsung, perang tarif BIS ini juga diikuti dengan penurunan harga paket data operator (APN operator) hingga ada yang berani menawarkan paket unlimited seharga IDR 25,000 per bulan untuk Fair Usage 500MB.

Di satu sisi, konsumen cukup diuntungkan dengan adanya penurunan harga paket data ini. Harga paket data yang murah biasanya mendorong konsumen untuk “konsumtif” mengambil paket ini cepat-cepat, mumpung masih belum banyak yang menggunakan katanya. Di sisi lain, peningkatan arus penggunaan data, jika tidak diimbangi dengan kestabilan dan ketersediaan bandwidth akan menimbulkan bottleneck, yang pada ujungnya justru merugikan kedua belah pihak.

Ibu Ventura Elisawati sudah membahas panjang lebar tentang masalah profit margin tipis dan sejumlah kerugian bisa yang diperoleh oleh operator dengan adanya perang tarif BIS ini. Saya setuju bahwa sebenarnya konsumen BIS ini cenderung adalah golongan menengah ke atas, kelas konsumsi A dan B yang tidak begitu price sensitive seperti laiknya konsumen promo telepon dan SMS murah beberapa waktu lalu.

Reliabilitas dan kecepatan adalah isu yang lebih penting bagi golongan ini ketimbang masalah harga. Toh selama ini, dari beberapa perbincangan yang saya lakukan dengan sesama pengguna paket BIS, orang pindah paket BIS BUKAN karena harga yang lebih murah tapi lebih ke masalah kestabilan coverage jaringan dan kecepatannya. Mohon teman-teman dari operator mencamkan lagi kalimat tersebut. Buat apa kita pindah ke operator yang menawarkan harga tarif bulanan separuh operator yang lain, jikalau kualitas jangkauan layanan dan kecepatannya juga tinggal separuhnya saja?

Saya coba menggali alternatif-alternatif, selain penurunan harga, yang dapat menjadi insentif operator untuk menarik minat pelanggan menggunakan layanan BIS-nya. Hal paling utama adalah reliabitas jaringan dan peningkatan coverage area. Data terbaru menunjukkan Telkomsel saat ini sudah kembali menjadi yang terbanyak pelanggan BIS-nya. Hal ini dipengaruhi tak lain dan tak bukan karena luasnya area pelayanan BIS hingga ke pelosok. Masyarakat cukup nyaman mengetahui bahwa BlackBerry-nya akan tetap mendapatkan GPRS atau EDGE besar jika dibawa ke daerah manapun. Ini sampai sekarang masih belum ditandingi oleh operator lain, meskipun Indosat sebagai pionir mengekor dengan ketat.

Hal kedua adalah menjamin kecepatan minimal layanan BIS-nya. Daripada mengiklankan kecepatan up to sekian Mbps, lebih baik operator menjamin hal seperti MINIMAL kecepatan yang bisa diperoleh adalah 384 Kbps untuk 2G, ataupun 1Mbps untuk 3G. Ini jauh lebih menyenangkan ketimbang mengatakan kecepatan teoritis up to sekian Mbps, tapi di jam-jam sibuk kecepatannya drop hingga cuma di bawah 100 Kbps.

Hal lain yang bisa dieksplorasi lebih lanjut adalah peningkatan kerjasama roaming internasional yang lebih luas, memungkinkan masyarakat untuk membawa layanan BIS-nya di negeri seberang tanpa khawatir tagihannya jebol. XL Axiata sudah memulainya dengan harga IDR25,000 untuk paket pascabayar saat roaming di sejumlah negara di Asia. Ada baiknya kerjasama diperluas lagi, misalnya ke Australia, dan bahkan negara-negara Eropa dan Amerika.

Solusi ultimate layanan ini adalah adanya paket global roaming, memungkinkan adanya satu harga saat dibawa bepergian ke manapun di belahan dunia ini. Paket semacam ini sudah ditawarkan oleh Verizon Wireless dari USA dan kabarnya sejumlah orang Indonesia yang memang sering sekali bepergian untuk bisnis sudah menggunakannya. IDR500,000 – 1 juta per bulan untuk layanan global roaming, kenapa tidak?

Dari penjelasan-penjelasan di atas, tampak bahwa masih ada sejumlah ruang yang bisa diambil operator sebagai nilai tambah layanannya ketimbang perang harga. Maukah alternatif-alternatif itu diambil ketimbang jor-joran menurunkan harga tanpa mempertimbangkan kualitas layanan, itulah pertanyaannya.

AHA, satu lagi produk Internet dari Bakrie Connectivity

aha-bakrie-connectivity

Memperkaya pilihan berinternet hari ini, Bakrie Telecom melalui anak perusahaannya Bakrie Connectivity (BConnect) menawarkan layanan baru paket data berbasis jaringan EVDO CDMA. Dikemas dengan nama AHA, berasal dari singkatanAffordable Highspeed Access, BConnect berusaha menghindari pertempuran langsung di ibukota dengan menyasar segmen gemuk di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Saat ini, AHA tersedia di kota Semarang, Solo, Yogyakarta, Surabaya, dan Malang. Di mana ada sinyal Esia — di kota-kota tersebut, berarti di situ AHA ini bisa digunakan. Paket yang tersedia berupa dua model modem USB dan sebuah Samsung Corby Pro AHA, dengan harga mulai dari IDR 499,000 dengan beberapa paket bulanan yang bisa dipilih seperti di gambar di atas.

Dalam peluncurannya BConnect menggandeng Google, dengan tersedianya secara default peramban Google Chrome. Oh ya, klaim dari BConnect sendiri, kecepatan maksimal yang bisa diperoleh dari AHA ini, secara teoritis, adalah 3.1 Mbpsdownstream dan 1.8 Mbps upstream.

speedtest AHA

Salah seorang blogger, Anang, berhasil mencobai kualitas BConnect ini dan meng-capture tes kecepatannya. Ternyata seperti screenshot yang ada di atas, kecepatan downstream-nya sangat sesuai dengan apa yang diiklankan. Tentunya, prinsip produk baru yang cepat di awal berlaku di sini. Meskipun demikian, saya sangat berharap bahwa BConnect mampu mempertahankan kualitas layanannya agar dapat menjadi alternatif handal konektivitas Internet secara mobile.