Ponsel Pencukur Jenggot!

beard phone

Manusia memang makhluk yang ada-ada saja. Setelah berhasil menjadikan ponsel sebagai perangkat digital multi fungsi – sebagai kamera, PDA, proyektor, komputer portabel – kini manusia tampaknya sudah menambah satu fungsi lagi, yakni pencukur jenggot! Ponsel ini memang baru beredar di Jepang, tapi vendor-vendor ponsel lokal mungkin bisa memasukkan fitur gres ini ke dalam ponsel-ponsel kloning Blackberry mereka. Maklum, demi sebuah differensiasi yang sangat langka muncul di ranah teknologi informasi Indonesia saat ini.

030 010 460

 

030 013 460

Well, pisau cukurnya bisa diganti dengan Gilette ga ya?

[Wireless Watch Japan ]

Strategi diferensiasi untuk vendor ponsel china dan lokal (jilid satu)

Diferensiasi adalah salah satu hal yang sangat penting – bahkan sangat mahal – dalam dunia pemasaran. Berbagai cara dilakukan oleh biro iklan dan perusahaan untuk menjadikan produknya sebagai sesuatu yang tidak ada duanya. Tidak terkecuali untuk perusahaan-perusahaan pembuat ponsel. Di dalam industri yang tren dan perubahannya bergerak secepat kilat ini, perusahaan-perusahaan yang mampu membuat perbedaan biasanya akan menjadi pemenang. Apple dengan iPhone berlayar sentuhnya, RIM dengan Blackberry ber-QWERTY-nya, Sony Ericcsson dengan ponsel Walkman-nya, atau HTC dengan ponsel-ponsel Android-nya bisa menjadi contoh betapa perbedaan adalah hal yang sangat penting.

Tapi bagaimana dengan vendor-vendor ponsel lokal di Indonesia? Perlukah perusahaan-perusahaan ini berinvestasi untuk mengejar diferensiasi yang terkadang alih-alih bikin untung besar justru bisa bikin bangkrut total? Hmmm, apa pun alasan dan risikonya, tidak ada salahnya untuk membeberkan beberapa ide terkait diferensiasi ini. Berikut strategi diferensiasi khusus untuk vendor ponsel lokal ala penulis:

1. Gunakan DVORAK, Lupakan QWERTY

dvorak

Gara-gara Blackberry ber-QWERTY sedang booming di Indonesia, hampir semua vendor ponsel saat ini jadi sibuk untuk membuat dan menjual tiruannya – kecuali Sony Ericcsson. Mulai dari vendor internasional sekelas Nokia, Samsung, dan Motorola, sampai vendor ponsel kelas China dan lokal seperti HT dan D-One ramai menggeber ponsel QWERTY masing-masing. Dampaknya tragis, konsumen Indonesia tampaknya lama kelamaan akan jenuh dan merasa bosan dengan ponsel jenis ini. Saya pikir tidak hanya konsumen, produsen pun mungkin akan ikut-ikutan stuck dengan kenyataan ini.

Bila Anda adalah seorang pimpinan perusahaan yang mempunyai tanggung jawab besar untuk membentuk identitas (brand) institusi Anda, maka tidak ada salahnya jika Anda membuat gebrakan besar yang bisa membuat perusahaan Anda keluar dari hiruk pikuk – getting out of the crowd. Salah satunya adalah dengan menanamkan keyboard bertipe DVORAK di ponsel-ponsel buatan Anda.

Wait, tampaknya Anda belum tahu sama sekali tentang spesies baru layout keyboard DVORAK ini bukan? Agar Anda bisa memahami dengan jelas kelebihan DVORAK dibanding QWERTY, sebaiknya Anda unduh saja langsung kartun tentang DVORAK VS QWERTY ini. (download pdf)

Setelah membaca dan merenung betapa “kelamnya” sejarah di balik munculnya layout keyboard QWERTY, saya harap Anda langsung membentuk tim khusus untuk mendesain sekaligus meriset tentang kemungkinan untuk menjual ponsel berkeyboard dengan layout DVORAK di pasar potensial bernama Indonesia.

2. Gaetlah high tech ambassador, jangan artis!

budiputranukmanbisnis

Budi Putra & Nukman Luthfie: The Next Techie Ambassador!

Samsung sudah mengontrak Nicholas Saputra & Dian Sastro, Toshiba punya Luna Maya, lalu perusahaan Anda akan pilih siapa? Kalau perusahaan Anda ingin tampil beda, cobalah merekrut Budi Putra atau Nukman Luthfie . Selain karena sudah punya brand bagus, keduanya juga punya banyak follower dan audience yang tidak segan untuk mencari tahu, mendiskusikan, bahkan membeli dan memakai gagdet-gadget yang juga dipakai oleh kedua tokoh digital tersebut.

Mungkin awalnya konsumen merasa agak sedikit aneh dan risih, tapi kenapa tidak? Bukankah segala sesuatu yang beda itu pasti akan terasa “aneh” di awal-awal. Ngomong-ngomong, selain Budi Putra dan Nukman Luthfie, saya pikir masih ada satu kandidat lagi yang sangat cocok untuk menjadi iCon diferensiasi Anda. Siapa dia? Mark Zuckerberg!

Nama terakhir yang saya sebut memang “sangat mahal”, tapi kalau perusahaan Anda bisa menggaetnya maka produk Anda saya rasa siap untuk dipasarkan di mana saja di kolong dunia selama di sana ada masih pengguna facebook-nya!

Take action, just do idiot !

To be continued ….

Note:

Tulisan Strategi diferensiasi untuk vendor ponsel china dan lokal adalah tulisan berseri. Di waktu-waktu mendatang, penulis mungkin akan menerbitkan seri-seri berikutnya. Siapa tahu Anda berminat? So stay tuned in gadnix, thanks.

[Gambar Nukman Luthfie] | [Gambar Budi Putra ]

Dampak booming ponsel, twitter dan facebook bagi para penarik becak di Yogyakarta

becak

Apa dampak booming ponsel bagi para penarik becak di Yogyakarta? Well, setidaknya ada dua dampak langsung yang terjadi akibat booming-nya penggunaan ponsel di Kota Yogyakarta terhadap tukang becak. Berikut dua diantaranya:

1. Mengurangi penghasilan tukang becak.

Beberapa tukang becak mengaku penghasilan mereka mengalami penurunan drastis akibat meledaknya penggunaan ponsel. “Betapa tidak”, ujar salah seorang mantan penarik becak yang sudah berganti profesi menjadi penambal ban kepada saya, “Lha wong sekarang para penumpangnya selalu minta jemput pakai motor. Ketika mereka tiba di bandara (baca: Adisucipto), mereka tinggal telpon atau SMS temannya untuk minta dijemput. Pas turun di stasiun, penumpangnya tinggal mengeluarkan hape terus SMS. Habis belanja dari pasar tradisional atau mall, eh minta jemput lagi. Anak-anak sekolah kebanyakan sekarang juga begitu, kalau pulang mereka tinggal SMS terus minta jemputan. Kalau begini terus kan tukang becaknya yang susah.”

2. Menambah penghasilan tukang becak.

Lha terus bagaimana mungkin ponsel bisa menambah penghasilan tukang becak. Tidakkah ini kontra produktif dengan poin pertama? Sekilas memang iya, tetapi sejatinya tidak. Para penarik becak yang modern dan adaptif ini ternyata cerdik melihat peluang. Mereka beralasan bahwa keberadaan ponsel sangat membantu mereka untuk menerima informasi alias “update status” dari sesama rekan seprofesinya tentang titik-titik potensial yang berstatus “urgently required: a pedicab “.

Sebagai contoh, ketika ada rombongan turis luar kota atau luar negeri – kecil kemungkinan mereka minta jemputan – yang hendak membutuhkan becak dalam jumlah yang besar, maka salah satu tukang becak yang ada di dekat hotel itu akan mengirimkan “update status” kepada rekan seprofesinya yang mungkin sedang mangkal di lokasi lain. Dus, si tukang becak yang menerima “update status” itu pun bisa langsung merespon panggilan itu secepat mungkin agar “rezekinya tidak dipatok” oleh tukang becak lain.

hib01

Kesimpulan

Dari dua poin di atas, saya ingin berhipotesis sebagai berikut:

  1. Ponsel bersifat netral,
  2. Tukang becak yang tidak bisa memanfaatkan ponsel akan tergilas oleh pelanggannya yang sesekali harus memakai ponselnya untuk meminta jemputan,
  3. Tukang becak yang bisa memanfaatkan ponsel akan menangguk untung dari “update status” yang cepat dari rekan seprofesinya yang juga memiliki ponsel,
  4. I guess those pedicab drivers should purchase a cellphone that supports facebook or twitter somehow.
  5. Technology couldn’t kill human yet. It is human – because of its interpretation -that kill themselves using their technology.

Enjoy Jogja! Enjoy Gadnix!

[gambar 1] | [gambar 2 ]

Motorola mau bikin Tablet Phone tahun 2010

Sholes-Tablet

Setelah sakit-sakitan di tahun 2008 dan mulai berdenyut kembali di tahun 2009 dengan Moto Droidnya, Motorola tampaknya kini semakin bugar saja. Menurut salah satu sumber, pabrikan ponsel asal Amerika ini kemungkinan akan meramaikan pasar tablet phone ala N900 di quartal pertama tahun 2010 dengan Motorola Sholes tablet.

Berikut spesifikasi Motorola Sholes tablet:

  • layar 854 x 480 pixel
  • layar 3.7 inchi capacitive touchscreen
  • prosesor berfrekuensi 550 MHz TI OMAP 3430 CPU
  • 8-megapixel camera dengan Xenon flash
  • HDMI port, 720p playback dan DLNA support
  • Android 2.0

Menarik untuk dilihat, siapa yang akan menjadi pemenang di pasar sedang menggeliat ini, apakah Nokia dengan N900-nya ataukah Motorola dengan Sholes tablet-nya?

[Phone Arena]

Now on sale for only Rp 55.000 [check other types]

ELSE: Ponsel masa depan?

Sebuah demo yang dilakukan perusahaan berbasis Israel, Emblaze, di London yang dilansir Engadget cukup mencengangkan para penggemar gadget. Bagaimana tidak, sebuah perusahaan non-major membuat sebuah ponsel, saya lebih senang memanggilnya sebagai ELSE ketimbang First Else, yang memiliki sistem operasi yang sama sekali baru, non grid, dan bisa memiliki menu berbeda di setiap bagiannya. Saya jadi teringat tulisan Smashing Magazine tentang “the death of the (boring) blog post”, bahwa salah satu tren masa depan adalah menu yang tidak seragam dan berbeda-beda di setiap (sub)-bagiannya.

ELSE sendiri saya lihat memiliki 3 bagian menu besar. Satu yang berbentuk seperti cahaya di sisi kanan, model dua yang berbentuk menu sisi banyak tidak beraturan, dan cara ketiga yang sudah masuk ke menu konten, di mana setiap pilihan, baik media maupun kontek telepon, memiliki tiga tombol pilihan.


[tautan untuk mobile browser]

Kreatif! Justru kreativitas seperti inilah sebenarnya yang dapat menarik konsumen untuk berpaling dari iPhone. Kita tahu bahwa iPhone dibuat dengan keindahan, oleh karena itu model techie macam Android ataupun BlackBerry sebenarnya tidak akan menarik pengguna iPhone yang memang memuja keindahan dan kepiawaian dalam urusan UX (user experience) yang menjadi daya tarik Apple selama bertahun-tahun.

Ok, kita kembali lagi ke ELSE. Selain urusan UI yang ciamik, ELSE juga ditenagai dengan paket piranti keras yang memadai. Prosesor yang digunakan serupa dengan yang dipakai iPhone 3GS dan Palm Pre, resolusi layar sebagus DROID (854×480), kamera 5 megapiksel dengan kemampuan perekaman hingga 30 fps, serta batere berkapasitas lumayan 1450 mAh. Plus dikabarkan kapasitas memorinya akan mencapai 32GB. Dipastikan ELSE ini akan berjalan di atas jaringan HSDPA (dan GSM tentunya).

Yang bisa menjadi “kekhawatiran” kita adalah bagaimana perusahaan pembuat ELSE bisa bertahan untuk menjual dan memberikan pelayanan purnajual terhadap ponselnya. Kita tahu bahwa mereka bukan Apple yang memiliki dukungan finansial dan jaringan yang kuat saat pertama kali merevolusi iPhone di tahun 2007. Satu lagi, dengan spesifikasi dan hype seperti ini, adalah tidak arif jika Emblaze tidak menjanjikan peluncuran publik secepatnya — setidaknya circa Q1 2010 — karena hype seperti ini tidaklah bertahan lama.

Akankah Emblaze mampu menghadapi tantangan ini? Para penggemar gadget sangat menanti jawabannya.