Dampak booming ponsel, twitter dan facebook bagi para penarik becak di Yogyakarta

becak

Apa dampak booming ponsel bagi para penarik becak di Yogyakarta? Well, setidaknya ada dua dampak langsung yang terjadi akibat booming-nya penggunaan ponsel di Kota Yogyakarta terhadap tukang becak. Berikut dua diantaranya:

1. Mengurangi penghasilan tukang becak.

Beberapa tukang becak mengaku penghasilan mereka mengalami penurunan drastis akibat meledaknya penggunaan ponsel. “Betapa tidak”, ujar salah seorang mantan penarik becak yang sudah berganti profesi menjadi penambal ban kepada saya, “Lha wong sekarang para penumpangnya selalu minta jemput pakai motor. Ketika mereka tiba di bandara (baca: Adisucipto), mereka tinggal telpon atau SMS temannya untuk minta dijemput. Pas turun di stasiun, penumpangnya tinggal mengeluarkan hape terus SMS. Habis belanja dari pasar tradisional atau mall, eh minta jemput lagi. Anak-anak sekolah kebanyakan sekarang juga begitu, kalau pulang mereka tinggal SMS terus minta jemputan. Kalau begini terus kan tukang becaknya yang susah.”

2. Menambah penghasilan tukang becak.

Lha terus bagaimana mungkin ponsel bisa menambah penghasilan tukang becak. Tidakkah ini kontra produktif dengan poin pertama? Sekilas memang iya, tetapi sejatinya tidak. Para penarik becak yang modern dan adaptif ini ternyata cerdik melihat peluang. Mereka beralasan bahwa keberadaan ponsel sangat membantu mereka untuk menerima informasi alias “update status” dari sesama rekan seprofesinya tentang titik-titik potensial yang berstatus “urgently required: a pedicab “.

Sebagai contoh, ketika ada rombongan turis luar kota atau luar negeri – kecil kemungkinan mereka minta jemputan – yang hendak membutuhkan becak dalam jumlah yang besar, maka salah satu tukang becak yang ada di dekat hotel itu akan mengirimkan “update status” kepada rekan seprofesinya yang mungkin sedang mangkal di lokasi lain. Dus, si tukang becak yang menerima “update status” itu pun bisa langsung merespon panggilan itu secepat mungkin agar “rezekinya tidak dipatok” oleh tukang becak lain.

hib01

Kesimpulan

Dari dua poin di atas, saya ingin berhipotesis sebagai berikut:

  1. Ponsel bersifat netral,
  2. Tukang becak yang tidak bisa memanfaatkan ponsel akan tergilas oleh pelanggannya yang sesekali harus memakai ponselnya untuk meminta jemputan,
  3. Tukang becak yang bisa memanfaatkan ponsel akan menangguk untung dari “update status” yang cepat dari rekan seprofesinya yang juga memiliki ponsel,
  4. I guess those pedicab drivers should purchase a cellphone that supports facebook or twitter somehow.
  5. Technology couldn’t kill human yet. It is human – because of its interpretation -that kill themselves using their technology.

Enjoy Jogja! Enjoy Gadnix!

[gambar 1] | [gambar 2 ]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>