
Tulisan ini adalah guest post dari Malcolm Gladwell (*)
Waktu Eugene Kaspersky hadir di Yogya, saya sempat terkejut, ada apa gerangan seorang founder sekaligus pemilik perusahaan sekaliber kaspersky datang ke Yogya dan menjadi pembicara di UGM. Tebakan saya: Pak Kaspersky pasti mau jualan anti-virus nih? Aha, ternyata saya tidak salah. Pada pegelaran Yogyakomtek 2009 yang baru selesai tanggal 21 Oktober 2009 kemarin, Kaspersky termasuk salah satu vendor asing yang membuka booth. Keren! Tapi bagaimana dengan harga produknya? Apakah akan berhasil meraih target penjualan?
Sebagai outsider, tentu saja saya tidak mempunyai data pasti tentang itu. Tapi berdasarkan perhitungan kasar saya, Kaspersky tampaknya akan sangat kesulitan untuk mengejar target penjualan di kota seperti Yogya. Kenapa?
Faktor Alam bawah sadar
Ada beberapa alasan;
- Di Yogyakarta, anti-virus itu GRATIS!
- Harga update anti-virus hanya Rp. 1000,00 atau setara dengan Rp. 3000,00 (ongkos satu jam menggunakan jasa warnet), dan
- Pelajar, mahasiswa, dan masyarakat di Yogya terbiasa menyewa CD yang berisi kumpulan anti-virus berlisensi – di dalamnya termasuk kaspersky – seharga Rp. 2000,00 – Rp. 3000,00 (tergantung rental CD nya).
Dengan tiga alasan KUAT seperti di atas, lalu bagaimana mungkin Kaspersky bisa menjual produk miliknya seharga Rp. 200.0000,00 per kemasan untuk 2 – 3 komputer?
Beri bonus mewah, tapi bukan undian BMW!

Triknya adalah dengan memberikan bonus. Tapi tentu saja, bonusnya bukanlah kaos keren, payung cantik, kalender mewah, jam dinding elegan, atau sejenisnya. Bonus yang sama maksud di sini adalah sesuatu yang menurut “alam sadar” masyarakat Yogya layak untuk dibeli dengan banderol Rp. 200.000,00. Apa itu? USB Flashdisk dengan kapasitas 8GB!
What? Are you kidding? Absolutely not! Memang, harga standar flashdisk dengan kapasitas 8GB berkisar antara 170 – 180 ribu rupiah. Tapi itu kan kalau membeli dengan prinsip eceran alias satuan. Bagaimana kalau membelinya sebanyak 5 ribu atau 10 ribu unit sekaligus? Hmmmm … membeli puluhan ribu flashdisk sekaligus dari vendor terkemuka Taiwan saya rasa bukan masalah besar untuk perusahaan sekaliber Kaspersky. Bukan begitu Pak Eugene?
Individu kau kejar, korporat kau dapat
Jika saja Kaspersky berani melakukannya, saya rasa anti-virus Kaspersky tidak hanya akan laris di level end-user yang membeli secara eceran, tapi juga di level korporat yang mungkin tertarik untuk membeli anti virus Kaspersky dengan niat tambahan, yakni mengincar flashdisk 8GB. Betul tidak? Ketimbang membeli satu unit flashdisk 8GB seharga 170 – 180 ribu rupiah, kenapa tidak sekalian membeli satu unit anti-virus Kaspersky secara resmi yang ada bonus flashdisk 8GB-nya. Apalagi kalau flashdisk yang ditawarkan juga datang dari vendor yang sudah populer macam Kingston, Apacer, Transcend, atau AData. Plus dengan kartun wajah Jackie Chan bila perlu. Lengkaplah sudah kebahagiaan konsumen Yogya!
Basis pengguna dulu, uang kemudian
Berapa besarnya keuntungan dalam bentuk rupiah tampaknya agak sulit untuk diungkap. Tapi ditilik dari sisi promosi, saya yakin Kaspersky bisa meraih keuntungan yang sangat besar. Dengan teknik marketing dan sales seperti ini, basis pengguna resmi Kaspersky, baik itu di level individual maupun korporat kemungkinan bisa meningkat drastis. Dan jika basis pengguna sudah mantap, saya yakin Kaspersky dapat menikmati beberapa keuntungan manis seperti yang saat ini sudah dinikmati oleh Microsoft di Indonesia; ketergantungan! (baca: maaf, saya bingung mencari kata yang lebih halus dibanding kata “ketergantungan”. Tapi bagaimana kalau memakai kata “kecanduan”?)
Di samping keuntungan dari sisi lisensi langsung, Kaspersky – laiknya Microsoft – juga dapat menangguk keuntungan dari setiap kopi produknya yang akan diinstall langsung (baca: built in) oleh vendor-vendor PC atau laptop. Hal ini hanya bisa terjadi sekaligus efektif dari sisi pemasaran kalau Kaspersky sudah mempunyai basis pengguna yang sangat besar di Indonesia. Dan mungkin akan lebih baik kalau Pak Eugene beserta staff memulainya di kota kecil seperti Yogyakarta.
Bukankah kalau sudah berhasil di Yogyakarta Kaspersky bisa melakukan hal yang sama di Jakarta, Vietnam, China, atau Ukraina?
Catatan kecil:
Sebagai vendor sistem operasi dan office suite berbayar, Microsoft sungguh telah mampu menangguk keuntungan yang sangat besar atas kebiasaan masyarakat Indonesia yang senang menggunakan produk-produknya secara ilegal. Dahulu di era 80an, pabrikan software asal Seatle ini tidak terlalu mempermasalahkan masalah legalitas atas produk-produknya yang sudah menyebar di Indonesia.
Tapi sekarang ceritanya lain. Isu legalitas adalah masalah lumayan serius untuk kalangan pengguna individual tapi menjadi sangat serius untuk korporasi besar di negeri dengan penduduk 230 juta lebih ini. Bagi vendor software sebesar Microsoft, pembajakan sebenarnya hanya mampu mengurangi keuntungan, tapi tidak akan menyebabkan kerugian.
Viva Microsoft!
(*) Untuk Pak Malcolm Gladwell saya minta maaf, nama anda saya pinjam sebentar (saya rasa ini adalah salah satu cara saya menerapkan ide-ide dari bukumu). Salam sayang dari pembaca dan penggemarmu, Wim Permana. Hahahaha ….
contact me: 081328351154 or wimkhan at gmail dot com