Impor BlackBerry bukan monopoli operator?

blackberry-app-world

Suatu wacana menarik dikemukakan oleh Depkominfo. Seperti yang diberitakan oleh detikInet, Depkominfo telah melansir sertifikasi Ditjen Postel untuk importir selain importir bagi produk BlackBerry. Tentunya setelah importir tersebut mengurus segala kelengkapannya di sini (surat-surat dll). Yang jadi pertanyaan, apa benar BlackBerry yang diimpor tersebut adalah sah (atau tidak)?

Seharusnya kita kembali berkaca pada pola distribusi yang selama ini dilakukan oleh RIM. Untuk menjual produk BlackBerry-nya — di mana pun di dunia ini — RIM SELALU menggandeng operator setempat. Ini karena RIM selalu menjual paket layanan yang bersifat kontinuitas yang disebut BIS dan BES. Makanya jika kita perhatikan semua handset BlackBerry selalu berlogo operator, entah itu Rogers, AT&T, T-Mobile, O2, Vodafone, bahkan termasuk Indosat (saya tidak tahu apakah Telkomsel dan XL juga melansir logo sendiri).

Nah, melihat hal ini, apa iya di USA atau Kanada ada pihak yang tidak berafiliasi dengan operator bisa menjual BlackBerry secara ketengan? Sejauh yang tahu sih tidak ada. Tapi bisa kita bilang pasar Indonesia adalah unik, di mana pola penjualan melalui operator adalah suatu barang baru. Selama ini konsumen biasa membeli di toko, sementara membeli paket melalui operator disinyalir membuat harga menjadi jauh lebih mahal — meskipun di-bundle dengan sejumlah paket insentif.

Buat saya pribadi, impor secara sendiri-sendiri di luar pengawasan operator memberikan celah bagi adanya barang dengan PIN kloningan, barang non garansi dari produk refurbished, dan kemungkinan semakin banyak PIN yang di-suspendĀ  di Indonesia karena kecurangan-kecurangan seperti ini.

Seharusnya bagaimana pihak RIM dan pihak operator menghadapi keinginan regulator — dalam hal ini Depkominfo — dalam pengadaan handset BlackBerry? Seharusnya impor melalui non-operator harus SANGAT DIBATASI untuk menghindari adanya kasus-kasus yang merugikan konsumen.

Bukan berarti kalau lewat operator akan tidak ada kasus, tapi setidaknya ada jaminan hukum seandainya terjadi masalah. Bagaimana Anda bisa menuntut RIM memperbaiki suatu unit yang memiliki PIN ganda akibat ulah tangan-tangan kotor di luar sana jikalau belinya di pedagang yang tidak jelas juga?

Jika terjadi kasus — misalnya seperti dilansir oleh Ndoro Kakung beberapa waktu lalu — RIM tidak bisa disalahkan sepenuhnya karena dia tidak punya wewenang untuk memberangus produk ilegal di wilayah teritori hukum Indonesia, tapi Depkominfo dan kepolisian RI bisa.

Ada baiknya bagi (calon) pembeli BlackBerry untuk memastikan bahwa handset yang digunakannya adalah valid dengan mengecek apakah PIN dan IMEI yang tertera di unit adalah sama dengan yang tertera di kotak. Untuk lebih absah lagi, silakan kirim no PIN Anda ke help[at]rim.com atau help[at]blackberry.net untuk memastikannya. Silakan menuju ke link ini untuk langkah-langkah lengkapnya.

Oh ya, jika minat membacanya, silakan unduh Handheld Limited Warranty Berbahasa Indonesia [pdf].

Samsung Pixon12 (M8910), ponsel pertama dengan kamera 12MP

SAMSUNG PIXON 12 1

Setelah sekian lama menunggu, akhirnya Samsung berhasil juga melampaui capaian 10MP milik Virtu V F10. Adalah Samsung Pixon12 (M8910) nama produk terbaru produsen ponsel asal negeri Park Ji Sung ini.

Samsung Pixon12 (M8910) datang dengan kekuatan 12MP. Asal anda tahu, angka itu adalah yang terbesar untuk semua ponsel kamera yang sudah beredar di dunia saat ini. Dua MP di atas Virtu V F10 dan 4MP unggul di atas ponsel kamera beken lain seperti LG KC10, SE C910, atau sang adik kandung, Samsung Innov8.

Continue reading

Berapa biaya pakai BIS di luar negeri?

bis-indonesia

Update: Tarif baru [promo] unlimited BlackBerry data roaming untuk Telkomsel, Indosat, dan XL.

Selama ini kita tahu biaya berlangganan BlackBerry Internet Service (BIS) untuk 3 operator berkisar antara IDR 150 – 190 ribu per bulan untuk menikmati segala macam kebutuhan data yang di-support oleh APN BlackBerry.net, misalnya push email, browsing, Instant Messenger, dan segala aplikasi yang bisa diunduh resmi di situs RIM.

Nah, seandainya kita sedang bepergian ke luar negeri, bagaimana tarifnya jika kita tetap ingin menggunakan BIS bawaan operator lokal secara roaming? Apakah akan sangat mahal menjulang apa yang akan kita bayarkan? Coba kita telaah satu-satu tarifnya untuk ketiga operator:

  1. Indosat. Menurut situs resminya, tarif standar yang digunakan adalah IDR 28/KB untuk 10 MB pertama dan IDR 22/KB untuk pemakaian di atas 10 MB. Selama “promo” hingga 31 Juli 2009, pemakai Indosat dapat menggunakan BIS secara flat sebesar USD 18 per hari (belum termasuk pajak), dengan pemakaian minimal 5MB. Layanan ini tidak memerlukan registrasi terlebih dahulu. Roaming partner BIS Indosat adalah Hutchison (Hong Kong), NTT DoCoMo (Jepang), KT FreeTel (Korsel), Smart Com (Filipina), StarHub (Singapura), Far Eastone (Taiwan), TrueMove (Thailand), dan BSNL and MTNL (India)
  2. XL. Menurut situs resminya, pengguna bisa menggunakan fasilitas “sepuasnya” hanya dengan IDR 25,000 per hari. Pengguna XL harus mendaftar terlebih dahulu untuk menikmati layanan ini dan sementara masih terbatas untuk pengguna pascabayar. Roaming partner BIS XL adalah Celcom (Malaysia), M1 (Singapura), Dialog (Sri Lanka), TMIB/Aktel (Bangladesh), TMIC (Kamboja), dan Smartone (Hong Kong)
  3. Telkomsel. Ini merupakan operator yang situsnya paling tidak informatif. Sudah saya coba ubek-ubek tapi informasi tentang BIS di luar negeri sangatlah terbatas. Satu-satunya informasi yang saya peroleh adalah: Layanan BlackBerry digunakan di luar negeri akan dikenakan biaya tambahan GPRS sesuai dengan tarif GPRS international roaming yang berlaku di Operator yang digunakan. Err, jadi biayanya gimana? Lalu siapa saja operator partner-nya? Ada baiknya ditanyakan terlebih dahulu ke CS sebelum memutuskan menggunakan BIS Telkomsel di luar negeri. Ini merupakan contoh rate BIS yang diterapkan oleh SingTel (Singapura).

Sebagai kesimpulan, saya tegaskan sekali bahwa adalah sangat mahal untuk menggunakan BIS operator lokal di luar negeri, apalagi coverage-nya saat ini masih terbatas sekitar Asia saja. Saya kira akan lebih efektif menggunakan notebook ber-Wi-Fi saat bepergian ke luar negeri, ataupun jika terpaksa menggunakan BlackBerry, gunakanlah SIM card operator lokal dan banyak memanfaatkan konektivitas Wi-Fi untuk mengurangi biaya yang dikeluarkan.