App Store, ketika iPhone menjadi tambang emas digital

iphone app store1

Ketika Telkomsel meluncurkan iPhone 3G Maret silam, banyak kalangan yang pesimis kalau ponsel tipis ini mampu bersaing dengan rival-rivalnya yang sudah ada di pasaran. Selain karena harganya yang relatif lebih tinggi, gadget yang diperkenalkan sejak Juni 2008 ini juga dianggap sudah tidak “in” lagi dari sisi fitur. Sebut saja misalnya fitur konektivitas 3G dan layar sentuh, dua fitur andalan iPhone ini sebenarnya kerap dijumpai pada beberapa seri ponsel yang jauh lebih murah.

Kalau memang demikian, lalu apa sih istimewanya iPhone 3G? Bila pertanyaan ini kita tanyakan kepada para penggunanya, maka boleh jadi kita akan mendapatkan jawaban yang beragam. Tapi jika kita membatasi makna kata “istimewa” sebagai “sesuatu yang tidak ada duanya” maka jawaban dari pertanyaan ini tidak lain dan tidak bukan adalah App Store.

iphone-app-store

Sebuah katalog aplikasi bernama App Store

App Store pada dasarnya adalah sebuah layanan katalog aplikasi yang dibuat oleh Apple khusus untuk iPhone dan iPod Touch. Melalui App Store, para pengguna bisa melihat-lihat dan mengunduh ribuan aplikasi dari iTunes Store, baik itu yang gratis maupun yang tidak.

Berdasarkan data resmi yang dikeluarkan Apple, tercatat tidak kurang dari 25.000 aplikasi yang masuk ke dalam App Store sampai tanggal 17 Maret 2009. Aplikasi-aplikasi ini terbagi dalam beberapa kategori seperti bisnis, permainan, sampai pendidikan. Diantara ribuan aplikasi itu ada yang memang dibuat oleh perusahaan mapan (major) seperti EA dan Gameloft, tapi banyak diantaranya justru berasal dari pengembang aplikasi (developer) independen (indie).

Catatan lainnya adalah bahwa sudah terjadi sekitar 800 juta aktivitas pengunduhan sejak App Store dibuka pertama kali oleh Steve Jobs pada tanggal 10 Juli 2008. Statistik yang fantastis ini, baik dari segi melimpahnya aplikasi maupun jumlah pengunduhan, bisa menjadi bukti bahwa pengguna dan developer iPhone tampaknya memang mencintai App Store.

Melihat App Store dari kacamata pengguna

Keberadaan dan kemudahan yang ditawarkan oleh Apple melalui App Store tak pelak bisa membuat pengguna iPhone sumringah. Jika App Store diibaratkan dengan dermaga, maka aplikasi-aplikasi yang silih berganti masuk adalah perahu atau kapal-kapalnya. Para pengguna tentunya akan merasa senang karena hampir setiap hari ada aplikasi-aplikasi baru yang bisa dilihat, dicoba, bahkan dalam banyak kesempatan bisa diunduh hanya dengan sekali klik tanpa mengeluarkan uang sepeser pun.

Hal seperti inilah yang membuat iPhone menjadi mirip sekali dengan PC atau laptop lengkap dengan sistem operasinya. Ketika konsumen membeli kedua perangkat tersebut, mereka tahu bahwa keduanya bisa dimanfaatkan untuk beberapa keperluan sekaligus. Jadi bukan hanya sebagai pengganti mesin tik manual.

Dengan melimpahnya aplikasi di App Store, para pengguna memiliki kesempatan untuk memanfaatkan iPhone di luar fungsi utamanya sebagai perangkat telekomunikasi. Entah itu sebagai pemutar musik dan video, aggregator berita, translator bahasa, buku agenda, pengatur anggaran keuangan, penunjuk jalan, atau bahkan sebagai sumber peta anatomi manusia versi digital.

App Store, tambang emas digital para developer

Jika para pengguna iPhone senang dengan keberadaan App Store, maka hal yang sama juga terjadi dengan para developer. Statistik penjualan iPhone dan iPod Touch yang sudah mencapai angka 30 juta unit di seluruh dunia serta adanya prediksi bahwa Apple akan kembali meluncurkan versi terbaru iPhone pada bulan Juli nanti – yang biasanya akan diikuti pula dengan kenaikan permintaan – menjadi faktor penting yang membuat para developer bersemangat untuk mengeruk uang sebanyak mungkin dari tambang emas digital ini.
Alasan lain yang mungkin membuat para developer jatuh cinta dengan App Store adalah sistem bagi hasil yang diterapkan oleh Apple. Aturan mainnya sangat sederhana: untuk setiap aplikasi non-gratisan yang berhasil terjual, Apple akan mengambil komisi sebesar 30% dari harga jual sementara sisanya akan menjadi hak developer. Sedangkan untuk aplikasi yang sifatnya gratisan, Apple tidak akan mengambil atau meminta sesen dolar pun dari developer.

Uniknya, para pengembang aplikasi gratisan ini juga tetap bisa meraup dolar bila mereka mampu menarik pemasang iklan untuk memanfaatkan aplikasi mereka sebagai ruang beriklan. Untuk model yang terakhir ini, developer akan mendapatkan penghasilan dari para pemasang iklan alih-alih dari konsumen yang mengunduh aplikasinya.

2apple-iphone-3g

Steve Demeter; US$250.000 dalam dua bulan

Dari begitu banyak developer yang sudah terjun ke App Store, Steve Demeter adalah salah satu contoh sukses. Aplikasi game buatannya yang dijual dengan harga $5, Trism, mampu mengeruk sekitar US$250.000 hanya dalam waktu dua bulan. Kepada Wired Demeter berujar bahwa ia membuat Trism sendirian alias single fighter.

Di lain pihak, Bart Decrem, CEO dari Tapulous, salah satu perusahaan pengambang aplikasi untuk iPhone dan iPod Touch menambahkan kepada Wired bahwa setiap aplikasi yang masuk ke dalam jajaran aplikasi populer di App Store berpeluang untuk meraih sekitar $5000 hingga $10.000 per hari. Sungguh kisaran angka yang fantastis di saat dunia sedang dilanda krisis keuangan.

iPhone dan App Store adalah peluang emas untuk developer lokal

Lalu adakah peluang yang sama juga terbuka untuk para developer lokal? Tentu! Sampai saat ini saja sudah ada beberapa aplikasi lokal yang terinstal di iPhone 3G yang dijual oleh Telkomsel. Aplikasi-aplikasi itu diantaranya Kompas Mobile, Detik Mobile, dan TransJakarta. Ketiga aplikasi ini bisa menjadi bukti bahwa developer lokal pun sejatinya mampu mengembangkan aplikasi di media yang relatif baru seperti iPhone.

Semua materi yang diperlukan untuk mengembangkan aplikasi iPhone juga sudah bisa didapatkan oleh para developer Indonesia. Sebagai contoh, iPhone SDK (Software Development Kit) bisa diunduh secara gratis di situs iPhone Developer Center. Selain itu, perangkat keras yang dibutuhkan untuk menjalankan SDK itu sendiri, yakni komputer berprosesor Intel dan bersistem operasi Mac OS X versi 10.5.4 ke atas juga bisa dibeli di berbagai toko di kota-kota besar negeri ini.

Atas dasar itulah, jika memang ada kendala untuk menjadi developer iPhone yang sukses, maka masalahnya bukan pada bahan mentah pembuatan aplikasi, tapi lebih pada kemauan, kreativitas, dan keterampilan pemrograman developer Indonesia sendiri. Dengan kata lain, jika ketiga hal itu sudah berada dalam genggaman, maka bukan tidak mungkin negara yang memiliki banyak sekolah tinggi teknologi informasi ini akan melahirkan sosok-sosok seperti Steve Demeter yang mampu meraup 2,7 miliar rupiah hanya dalam dua minggu per satu aplikasi.

4 thoughts on “App Store, ketika iPhone menjadi tambang emas digital

  1. Artikel yg bagus sekali, memang keunggulan utama iphone ya appstore ini. didukung pula dgn SDK yg mudah digunakan dan didapatkan, pantas skali bisa sukses. Jd pgn liat blackberry yg mengekor dgn app worldnya bkl gmana… Mudah2an si bs sesukses itu jg biar saingan makin seru :)

  2. @aria, setuju. saya juga berharap semoga RIM ikut sukses dengan appworldnya biara programmer indo banyak yang tertarik untuk nyemplung ke sana. maklum, BB laris banget di Indo. sekarang sudah sepantasnya kita juga mendapatkan income dari jual software :P

  3. Ya betul sekali keunggulan iPhone saat ini adalah AppStorenya dan keunggulan itu akan terasa menjadi lebih istimewa dari pada yg ditawarkan vendor smartphone lain, pada saat OS iPhone 3.0 di release oleh Apple. Yang pasti app world begoberry tidak akan mungkin pernah bisa menyamai App Storenya Apple iPhone….dimana-mana yang tiruan itu pasti mati dengan sendirinya….

  4. Memang iPhone adalah salah satu gadget bergengsi. Namun harganya cukup mahal.
    Nah, yang sudah lama mengidam-idamkan iPhone.
    Ada cara mudah mendapatkannya, cek di :
    http://www.hilo.co.id

    Silahkan dicoba!!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>