BlackBerry Storm, bakal menyaingi iPhone 3G di Indonesia?

Tadi malam, BlackBerry Storm –generasi pertama produk RIM dengan layar sentuh– diluncurkan oleh partner utama RIM di Indonesia, Indosat. Dilaksanakan di Plaza FX, peluncuran perdana ini belum akan menyediakan Storm secara ready stock. Storm baru akan tersedia untuk publik mulai bulan Mei depan. Meskipun demikian, masyarakat yang berminat bisa melakukan pre-order di situs Indosat.

Selain Indosat, XL juga akan segera menawarkan Storm. Tidak jelas kondisinya dengan Telkomsel, yang baru saja meluncurkan iPhone 3G. Saya pribadi cenderung yakin bahwa Telkomsel tidak akan menjual Storm, you know why :P

Storm sendiri diposisikan sebagai pesaing utama iPhone 3G, selain Samsung Omnia, LG Cookie, Sony Ericsson Xperia X1, ataupun Nokia 5800 XpressMusic yang kesemuanya menggunakan layar sentuh tanpa adanya suatu dedicated keyboard. Storm sendiri pertama kali diluncurkan di USA di bulan November tahun lalu. Sebelumnya sejumlah unit Storm telah masuk secara ilegal ke Indonesia. Saya sempat “menangkapnya” ketika dijual dengan harga semena-mena di sebuah toko gadget di Plaza FX (juga).

Storm diluncurkan dengan 2 varian. Yang pertama adalah 9500 yang mengusung frekuensi GSM (saja). Berikutnya adalah 9530 yang memiliki dual frekuensi dengan CDMA. Setahu saya, versi dengan CDMA hanya ditawarkan oleh Verizon Wireless di USA. Storm secara umum memiliki spec yang tidak jauh dibanding Bold ataupun Curve 8900, meskipun tidak dilengkapi oleh Wi-Fi! Untungnya, RIM baru-baru ini mengkonfirmasi bahwa akan ada “Storm 2″ yang dilengkapi dengan Wi-Fi (dan tentunya sejumlah perubahan lainnya).

Sama-sama dibayangi oleh peluncuran versi yang lebih baru, saya cenderung memprediksikan Storm tidak akan sesukses iPhone 3G. Kenapa demikian? Berikut adalah alasan-alasannya:

  1. BlackBerry tetap butuh keyboard. Meskipun Storm diposisikan untuk lebih bersaing dalam hal multimedia (terhadap iPhone 3G), pengguna Storm tetap membutuhkan kenyamanan dalam menggunakan tuts keyboard. Meskipun RIM mengklaim bahwa keyboard SurePress sangat responsif, pengalaman “mengetik dengan tuts” adalah sesuatu yang masih bersifat semi-wajib bagi crackberry –sebutan bagi BlackBerry addicts–
  2. Kemampuan multimedia Storm belum selengkap iPhone 3G. Kita semua tahu jika urusan aplikasi, iPhone (dan App Store) adalah rajanya. RIM cenderung (terlalu) selektif dalam membolehkan suatu aplikasi terdaftar di listing aplikasinya (belum tahu apakah AppWorld masih seperti ini), membuatnya tertinggal terhadap dukungan pihak ketiga
  3. Sudah ada pendahulunya, Bold dan Curve 8900. Pasar BlackBerry –walaupun potensial– cenderung didominasi oleh kaum muda di kota besar. Karena ceruk ini sudah ter-expose oleh Bold dan Curve 8900, saya yakin bahwa yang beralih ke Storm tidak akan banyak, kecuali memang kebanyakan duit untuk dibuang-buang. Harga yang ditawarkan saya yakin tidak akan jauh lebih murah dari harga perkenalan Bold setahun yang lalu
  4. Ditemukan sejumlah bugs saat pertama kali dluncurkan. Masih ingat review mengejutkan dari New York Times tentang Storm? Review dari jurnalis berpengaruh seperti itu, walaupun mungkin sebagian sudah diperbaiki, tentunya cukup berpengaruh bagi calon pembeli untuk berpikir dua kali. Sedikit banyak tentunya juga ada efeknya untuk pembeli di Indonesia
  5. Storm masih BlackBerry, bukan Apple. Ya, memang masyarakat Indonesia selalu suka yang baru. Dulu Nokia Communicator diburu-buru, berikutnya BlackBerry menjadi primadona. Kini Apple menawarkan sesuatu yang yang mungkin bisa jadi ponsel sejuta umat yang baru. Storm, di sisi lain, tidak menawarkan sesuatu yang benar-benar baru, meskipun sudah berlayar sentuh. Interface BlackBerry-nya ya serupa tak sama lah dengan Bold ataupun Curve 8900. Beda tipis lah..

Lima alasan di atas bisa jadi belum cukup kuat untuk menjadikan pembeli berpaling. 80 ribu pelanggan Indosat, 75 ribu pelanggan Telkomsel, dan 55 ribu pelanggan XL, yang kesemuanya menggunakan layanan BlackBerry bisa jadi bertambah setelah datangnya Storm ini. Mungkin pembaca sekalian bisa ikut urun pendapat tentang kemungkinan Storm menjadi pesaing kuat iPhone 3G, khususnya di Indonesia?

[Foto oleh Budi Putra]

Market share ponsel di Indonesia

Disclaimer: saya tidak memiliki data akurat tentang kondisi market share ponsel di Indonesia di periode apapun

AdMob, salah satu pemberi layanan periklanan mobile terbesar, merilis sebuah laporan [pdf] tentang market share selama tahun 2008. Datanya diolah dari 6000 situs mobile dan 1000 buah aplikasi di mana AdMob adalah pengelola periklanannya. Secara umum, hal paling mencolok dari data tersebut adalah penguasaan iPhone (baik versi pertama maupun kedua/3G) terhadap pasar smartphone, terutama di USA.

Di USA sendiri, produk Apple ini berhasil menguasai hampir 50% pasar! Itu artinya 1 dari 2 pengguna smartphone di USA menggunakan iPhone. Secara internasional, iPhone juga secara mengejutkan menguasai pasar smartphone dengan total market share sebesar 33%. Peringkat kedua yang diduduki oleh Nokia N70 hanya memperoleh share sebesar 7.1%. Data ini juga menandai menurun drastisnya penjualan ponsel berbasis Symbian dan Windows Mobile.

indonesia-admob

Satu hal menarik yang juga terangkum dalam laporan tersebut adalah AdMob menyertakan market share ponsel (tidak hanya smartphone) di Indonesia. Memang untuk segi mobile advertising, Indonesia sangatlah diperhitungkan karena memiliki potensi penduduk yang besar dan sifat konsumtif yang mendorong pembelian ponsel secara lebih sering. Menurut data tersebut, market share Indonesia di tahun 2008 dikuasai dengan telak oleh Nokia. Suatu hasil yang tidak mengejutkan. Nokia memperoleh 63.9%, diikuti oleh Sony Ericsson sebesar 26.6%.

Hal yang cukup menarik adalah data Other yang mencakup nilai 7%, di luar Nokia, Sony Ericsson, Motorola, dan Samsung. Seperti kita tahu, di tahun 2008 fenomena BlackBerry amatlah menggaung, terutama di kota besar. Nampaknya data tentang BlackBerry belum ada ataupun memang belum dianggap signifikan secara nasional. Data yang lebih seru pastinya akan didapatkan di tahun 2009, karena iPhone 3G sudah dimasukkan oleh Telkomsel secara resmi, sementara RIM semakin akan menancapkan tajinya dengan mengeluarkan BlackBerry Storm–BlackBerry pertama dengan layar sentuh–melalui XL.

Prediksi saya, penjualan Nokia dan Sony Ericsson–terutama di ponsel Symbian–akan mengalami penurunan di tahun 2009. Ceruk tersebut dimanfaatkan oleh kedatangan (yang intensif) dari BlackBerry dan iPhone. Meskipun demikian, ada baiknya kita menelaah lebih lanjut tentang “kualitas” laporan ini. AdMob sendiri hanya memilki data ini berdasarkan jumlah request dari ponsel yang digunakan. Tentunya ada disclaimer bahwa laporan ini tidak ditujukan sebagai suatu dokumen resmi, sehingga Anda sah-sah saja menduga bahwa data yang dikompilasi belumlah benar-benar valid.

Daur ulang ponsel lama Nokia Anda

nokiarecyclingtakeback

Pecinta gadget di sini tentunya mahfum bahwa perkembangan teknologi gadget sangatlah cepat. Salah satu efek dari kenyataan ini adalah cepatnya pergantian kepemilikan ponsel. Dalam waktu 1 tahun misalnya, bisa jadi kita sempat berganti ponsel satu ke yang lainnya. Kalo ponsel yang lama masih mulus dan paket bawaannya masih lengkap (misalnya kotak, batere, charger, dll), saya rasa gak ada masalah untuk menjualnya lagi di ITC terdekat. Tapi gimana dengan ponsel yang benar-benar sudah rusak, sudah bocel di mana-mana, dan tidak layak lagi dipakai oleh orang lain? Daripada menuh-menuhin lemari dan berdebu, mending didaur ulang saja!

Nokia, salah satu perusahaan yang dinilai mendukung semangat eco-green menggagas ide bagus untuk mendaur ulang ponsel Nokia Anda. Bagusnya, ide ini sudah terimplementasi di Indonesia. Cukup datangi Nokia Care Center terdekat dan officer di sana akan mengurusnya untuk Anda. Simpel bukan? Setidaknya Anda membantu dunia mengurangi limbah yang tidak dapat terbarui secara alami.

Sebelumnya, cukup disayangkan bahwa saat ini baru Nokia Indonesia saja yang memberikan inisiatif tersebut. Diharapkan semua vendor di Indonesia mengikuti langkah tersebut untuk mewujudkan Indonesia yang “lebih sehat”. FYI, di beberapa negara maju, pendaurulangan ini justru sudah menjadi suatu industri. Ditangani oleh pihak swasta, pemilik ponsel bahkan bisa menjual (dengan harga yang cukup pantas) untuk di-daur ulang. Sepertinya ini bisnis yang menarik. Ada yang tertarik untuk menindaklanjuti?

[Hat tip untuk Aku Ingin Hijau]