Serba-serbi Palm Pre

palm-pre

Memang Palm Pre, sebagai produk terbaru (yang belum keluar), ini sedang menjadi komoditas hot di ranah USA. Sebelumnya kami jarang membahasnya karena pastinya kita tahu bahwa produk Palm, terutama yang baru-baru, tidaklah masuk secara resmi ke Indonesia, biasanya melalui importir tertentu. Terakhir saya melihat Palm Treo Pro yang dijual di etalase toko yang biasa menjual produk PDA. Kali ini mari kita coba bahas tentang Palm Pre yang rencananya akan diluncurkan pertengahan tahun ini (mungkin Juni, sebelum kemungkinan adanya produk iPhone yang baru).

Palm Pre sendiri kalo kita lihat dari gambar-gambar tampaklah memiliki screen yang sangat cantik. Dipersenjatai dengan jaringan berkecepatan tinggi 3G EVDO Rev A, layar 3.1 inchi dengan 16 juta warna, kamera 3.2 megapiksel, dan Palm WebOS yang menjanjikan, membuat kesengsem banyak pihak yang mungkin saja sudah bosan dengan iPhone, BlackBerry, ataupun G1-nya Android. Yang saya tahu, Palm Pre ini nantinya akan dipasarkan secara eksklusif oleh Sprint, salah satu operator CDMA terbesar di USA. Kerjasama ini layaknya Apple iPhone dan AT&T.

Salah satu analisis menarik yang baru-baru ini dikeluarkan oleh iSuppli (dan diwartakan oleh Business Week) menyatakan bahwa biaya pembuatan Palm Pre sendiri “hanya” US$ 138. Dengan asumsi Palm akan men-charge Sprint sebesar US$ 300, dan dijual lagi seharga US$ 200 (karena ada subsidi), tentunya Palm akan untung besar dan menyehatkan kondisi finansial perusahaan yang carut marut setelah “kekalahannya” dalam pertarungan dengan Windows Mobile di medio 2003-2005. Jika capek menunggu (dan membayar) ada cara yang praktis untuk memperoleh Palm Pre ini secara GRATIS, ya gratis, dengan mengikuti sejumlah event yang bahkan sudah dirangkum oleh blog Palm itu sendiri.

Sayangnya, kita di sini hanya gigit jari, dan harap-harap cemas jikalau ponsel ini bisa mampir di Indonesia. Ups, kalo yang diimpor ke sini adalah versi Sprint yang notabene operator CDMA, apakah operator lokal dapat mendukung fitur-fiturnya secara penuh? Ya kita harapkan adanya kemajuan teknologi di ranah CDMA untuk pasar lokal, setelah Indosat memutuskan untuk memasukkan BlackBerry CDMA melalui Starone. Masa jualannya cuma tentang tarif terus?

gadnix sudah ada tampilan versi mobile

Sedikit pemberitahuan dari editor bahwa situs kita ini,  gadnix.com, sudah dapat dinikmati dengan tampilan yang lebih simpel dan lebih sedikit data yang di-load di ponsel dengan bantuan plugin WordPress Mobile Edition buatan Alex King. Silakan nikmati gadnix.com dari browser ponsel kesayangan Anda :)

Jika Ada saran atau kritik mengenai tampilan mobile ini, silakan berikan komentar Anda di post ini. Terima kasih.

Tantangan BlackBerry CDMA melalui Indosat Starone

BlackBerry Storm 9530

Indosat, partner setia RIM di Indonesia, siap membuka lembaran sejarah baru dengan menggerakan tangan CDMA-nya sebagai pionir (mungkin satu-satunya?) operator CDMA yang akan membuka jaringannya untuk BlackBerry. Rencananya layanan ini mulai bisa dinikmati pelanggan Starone sejak bulan Mei. Dikonfirmasi dari detikinet, Indosat sendiri tidak akan mem-bundle paketnya dengan handset apapun. Dengan demikian, kita harus mencari sendiri handset yang mampu mengakomodasi jaringan CDMA, seperti Curve 8330 ataupun Storm 9530.

Kita tahu bahwa selama ini Starone selalu menjadi “anak tiri” bagi Indosat. Satu-satunya alasan orang–at least yang saya kenal–untuk menggunakan Starone adalah paket data Internet dengan biaya yang cukup terjangkau. Untuk perebutan kue subscribers,  sampai sekarang masih kalah bersaing dengan Telkom Flexi dan Esia karena pengembangan Starone sampai sekarang nampak setengah hati, jauh tertinggal dibanding saudaranya di ranah GSM. Suatu langkah yang berani akhirnya diambil oleh Indosat demi mengejar ketinggalannya.

Memanfaatkan jaringan yang sudah ada, Starone tidak perlu bersusah payah untuk membuat suatu jaringan yang baru. Meskipun demikian, saya melihat adanya tantangan yang mengakibatkan promosi BlackBerry ini tidak berjalan secara aktif. Tantangan tersebut antara lain:

  1. ARPU (Average Revenue Per User) pelanggan CDMA yang cukup rendah. Kita tahu bahwa kebanyakan ponsel CDMA digunakan di Indonesia karena biayanya yang murah untuk percakapan sesama operator maupun ke PSTN. Saya pribadi hanya mengeluarkan 25 ribu sebulan untuk penggunaan ponsel CDMA. Jikalau tarif langganan BlackBerry melalui operator GSM, sekitar 150 ribu per bulan, diterapkan untuk pelanggan CDMA, tentunya kita akan berpikir berkali-kali untuk membayar sejumlah uang yang bisa digunakan untuk menelepon hingga 150 jam lamanya
  2. Rendahnya penetrasi Starone dalam hal kualitas dan kuantitas jaringan. Saya memang bukan pengguna Starone, tapi setahu saya hanya ada 1-2 orang saja teman saya yang menggunakan Starone. Ini dikarenakan selain promosi dan tarif yang setengah hati, nampaknya kualitas dan kuantitas Starone di Jakarta maupun di luar Jakarta menjadi pertimbangan utama. Apa gunanya membayar biaya bulanan yang mahal jikalau tidak bisa digunakan, setidaknya seantero Jakarta?
  3. Tidak ada paket bundle dengan handset. Hal ini justru buat saya bisa menjadi blunder. Kita tahu tidak mudah untuk mencari handset BlackBerry, seperti Curve 8330 ataupun Storm 9530, yang memiliki kapabilitas jaringan CDMA. Seandainya disediakan oleh importir secara legal pun, tentunya importir akan mempertimbangkan segi keuntungan. Buat apa capek-capek mengimpor barang dengan potensi pelanggan yang tidak banyak jika dibandingkan dengan versi GSM-nya yang jelas-jelas sudah didukung oleh 3 operator besar. Justru seharusnya Indosat memulai edukasi ke masyarakat bahwa ponsel BlackBerry CDMA yang ditawarkan tidak kalah kualitasnya dan tidak begitu mahal harganya

Tiga alasan di atas, walau tidak banyak, cukup merepresentasikan kekhawatiran akan masa depan BlackBerry CDMA–bahkan sebelum diluncurkan. Sekali lagi, secara teknologi saya cukup excited bahwa akan ada lebih banyak pilihan untuk menikmati kecanggihan ponsel pintar ini,  tapi saya tekankan sekali lagi, kesalahan dalam mengatasi tiga permasalahan di atas akan menjadi blunder besar bagi Starone untuk bersaing dengan operator CDMA lainnya. Kita tahu bahwa ada operator CDMA seluler yang melaporkan kerugian hingga 1 Triliun di laporan keuangannya.

Jangan sampai hal tersebut terulang dan malah membebani kinerja keuangan Indosat yang sudah mulai memperoleh untung dari lengan GSM-nya. Benahilah Starone dengan sepenuh hati demi meningkatkan profil jaringan CDMA sebagai jaringan yang juga savvy untuk kemajuan teknologi, tak cuma menawarkan layanan telepon murah belaka.

XL (juga) luncurkan BlackBerry Store

xl-blackberry-store

Tidak mau kalah dengan Indosat, XL–operator GSM terbesar ketiga di Indonesia–meluncurkan juga gerai khusus untuk layanan BlackBerry. Dinamai XL BlackBerry Store, gerai ini akan berlokasi di Pacific Place Lantai 3, Kawasan SCBD. Sebelumnya Indosat telah membuka BlackBerry Branded Outlet di Plaza FX, tak jauh dari lokasi gerai XL nantinya.

Di sini (seharusnya) akan ditampilkan seluruh model yang dijual oleh XL beserta sejumlah aksesorisnya. Oh ya, XL telah mengkonfirmasi untuk TIDAK menjual BlackBerry Storm, berlawanan dengan Indosat, karena nampaknya feasibility study-nya memang tidak memungkinkan untuk bersaing head-to-head dengan iPhone 3G.

Meskipun demikian, saya cenderung pesimistis bahwa gerai khusus BlackBerry ini bisa memberikan suatu pelayanan optimal. Saya pernah berkunjung ke Indosat BlackBerry Branded Outlet dan pelayanannya tidak jauh berbeda dengan di gerai lainnya. Customer Service yang ada juga tidak memberikan informasi yang lebih baik. Yang lebih parah lagi, gerai ini tidak memberikan layanan purnajual apapun, kecuali unduh (download) berkas-berkas multimedia (seperti gambar dan musik), yang entah gratis atau tidak.

Saya harapkan, XL BlackBerry Store yang akan dibuka ini dapat lebih memberikan dukungan edukasi yang lebih bagi pelanggan BlackBerry yang terbilang masih baru di Indonesia. Mampukah bisa mendekati Nokia Care Center?

Awas ada bom waktu di iPhone 3G putih

cimg2882

Ekspresi Indra Bekti di acara launching iPhone 3G

Tulisan saya kali ini sebenarnya layak untuk masuk dalam “8 hal yang bisa membuat anda ragu untuk membeli iPhone 3G dari Telkomsel“, namun karena saya lupa dan menganggapnya sebagai sesuatu yang unik, akhirnya saya memutuskan untuk membuatnya sebagai satu cerita yang utuh. Maklum saja, kali ini saya berani membawa-bawa nama Indra Bekti, salah satu selebritis top Indonesia yang kebetulan adalah seorang pengguna iPhone 3G dan juga menjabat sebagai brand ambassador Telkomsel.

Continue reading