
Salah satu “trend” yang berkembang di tahun 2008 dan saya prediksikan akan berlanjut di tahun ini adalah “netbook”. Netbook secara istilah bisa diartikan sebagai notebook berlayar kecil, antara 7 hingga 11 inch (12 inch saya kira seharusnya belum bisa dikategorikan sebagai netbook), dengan performa lumayan (lebih rendah dibanding notebook tentunya), dan berharga murah atau “sangat murah”.
Di US sendiri, penjualan netbook sudah mendominasi pasar notebook. Berdasarkan hasil penjualan di Amazon, best seller di kategori PC sudah didominasi oleh netbook. Di jajaran 10 besar, hanya Macbook yang terdaftar sebagai notebook berlayar >12 inch. Asus EEE PC, Samsung NC10, Acer Aspire One, dan MSI Wind adalah raja diraja di perang notebook yang baru.
Salah satu pemicu booming-nya pasar netbook adalah krisis ekonomi global. Penyusutan budget untuk kebutuhan elektronik keluarga bisa jadi memicu keluarga Amerika untuk berlomba-lomba memiliki netbook, padahal awalnya netbook diposisikan hanya sebagai “notebook kedua”. Harga netbook sendiri buat mereka sangatlah murah. Dengan penghasilan rata-rata “hanya” US$ 2000 per bulan misalnya, netbook berharga US$ 300-400 seharusnya bisa dibeli dengan menyisihkan dana selama dua bulan (atau bahkan bisa langsung tanpa budgeting).
Bagaimana dengan Indonesia? Berdasarkan pengamatan saya, nampaknya pasar netbook belum semeriah di Amerika. Sangatlah jarang saya melihat ada orang di mall yang nongkrong dengan netbook-nya. Masih lebih banyak orang bawa Macbook malah. Memang saya belum ada survei menyeluruh tentang ini, tapi pengamatan umum bisa jadi tidak jauh meleset.
Ada sejumlah alasan yang mendasari kondisi ini. Berikut adalah beberapa alasan menurut analisis saya:
- Harga vs Performa. Rata-rata harga netbook di Indonesia lebih mahal dibanding di Amerika. Ini disebabkan pajak dan “ongkos-ongkos” yang lain yang justru makin menjauhkan netbook dari citra murah. Dengan performa yang tidak jauh berbeda, orang di Indonesia lebih memilih membeli notebook 14 inch second dengan harga yang lebih murah, layar lebih mumpuni, dan performa yang belum mengecewakan
- Kurang promosi dan insentif. Ini kesan saya dari iklan-iklan yang biasa nampang di koran. Netbook hanya diiklankan saat awal-awal peluncurannya. Tidak ada pula iklan netbook di situs komputer macam Bhinneka, bahkan netbook berukuran 9 inch bisa ditawarkan lebih mahal dibandingkan yang 12 inch. Seberapa sering Anda melihat pameran netbook di mall misalnya? Sangat sedikit. Ini berarti tidak ada insentif ataupun usaha intensif dari produsen netbook di Indonesia untuk mempromosikan produknya
- Gaya hidup. Satu lagi alasan yang bisa jadi hanya ada di Indonesia. Kepemilikan netbook belumlah menjadi bagian dari gaya hidup. Dengan dana yang sama, masyarakat cenderung akan lebih memilih membeli BlackBerry yang bisa dimasukkan ke saku (dibanding VAIO P?), lebih enak dibawa ke mana-mana, dan sudah menjadi bagian dari gaya hidup. Atau jika bersedia menabung lebih lama, Macbook tentunya lebih memiliki prestise.
Dengan sedikitnya 3 alasan di atas, saya melihat 2009 belum menjadi momen yang tepat untuk netbook berkembang di Indonesia. Saya pikir hanya ada 1 alasan di mana netbook tiba-tiba bisa booming di Indonesia. Alasan tersebut adalah jika Apple mengeluarkan versi “kecil” dari Macbook. Saya yakin hal tersebut akan menjadi stimulus yang dahsyat untuk perkembangan netbook, terutama di Indonesia, karena tentunya vendor pasti akan berlomba-lomba membuat produk yang lebih chic supaya pangsa pasarnya tidak direbut oleh produk Apple. Tapi kapan hal tersebut akan terjadi?