
Pernah mendengar nama Hi-Tech? Ya, merk ponsel tersebut adalah merk ponsel Indonesia, walaupun buatan aslinya adalah dari negeri Tirai Bambu. Bersama dengan ponsel seperti ZTE, Huawei, ataupun Mio, merk-merk tersebut berusaha mencari celah di pasar ponsel Indonesia, yang menurut saya pribadi masih sangat potensial.
Meskipun demikian, jika Anda perhatikan, ponsel-ponsel tersebut tidaklah banyak memberikan fitur-fitur yang super canggih. Hampir tidak mungkin Anda menemukan ponsel Cina yang menggunakan sistem operasi Symbian, berkamera 5 megapixels, berkonektivitas HSDPA (di Cina menggunakan TD-SCDMA), Wi-Fi, bahkan mampu ber-push email ala BlackBerry.
Jadi, apakah ponsel-ponsel Cina dan “lokal” tersebut mampu bersaing dengan ponsel-ponsel mapan, sekelas Nokia, Sony Ericsson, BlackBerry, ataupun iPhone yang kabarnya bakal masuk pasar Indonesia tahun depan?
Analisis saya mengatakan YA. Mengapa bisa demikian? Ada sejumlah alasan yang mendasari jawaban saya tersebut:
- Harga murah. Apakah ada ponsel Nokia yang dijual seharga IDR 199 ribu dan bisa jadi sudah berwarna? Hampir mustahil untuk ponsel baru Nokia memenuhi syarat tersebut, tapi bukan suatu yang mustahil bagi ponsel ZTE ataupun Huawei. Harga yang murah mendorong sejumlah operator CDMA menggandeng produk Cina tersebut untuk bundel promo murahnya
- Form factor lumayan. Untuk tampilan luar, saya bisa bilang produsen Cina cukup kreatif. Walaupun isi dalamnya “biasa saja”, form factor ponsel Cina banyak yang menyerupai smartphone. Ini tentunya “menaikkan gengsi” bagi pemakainya yang ingin memiliki ponsel smartphone terbaru tapi belum kesampaian.
- Dual SIM. Satu kelebihan ponsel Cina dibandingkan produsen Eropa (atau Jepang) adalah kemampuannya untuk menghandle kombinasi dua SIM (sekaligus atau simultan), baik untuk sama-sama GSM ataupun GSM dan CDMA. Samsung memang memiliki ponsel dengan kemampuan yang relatif sama, tapi dengan harga yang seperti bumi dan langit, ponsel Cina adalah pilihan utama bagi pengguna yang tidak mau menenteng dua ponsel setiap saat
- TV analog. Sekarang memang jamannya digital, tapi hanya TV analog dari ponsel Cina lah yang mampu menampilkan TV-TV lokal di ponsel secara gratis menggunakan antena eksternal! 3G streaming? DMB? DVB? Buat apa bayar kalau ada yang gratis?
Sebagai kesimpulan, pastinya akan ada merk-merk tertentu yang tumbang karena kalah bersaing, namun ponsel Cina dan “lokal” pasti akan mendapat tempat di niche kalangan menengah ke bawah dengan faktor keekonomian dan teknologi. Bahkan bisa jadi, di tahun 2009 akan lebih banyak produk Negeri Panda yang membanjiri pasar tanah air.
Opini yang keren nih Mas Amir. It’s Great to read it.